Iklan

Jumat, 07 Agustus 2026, 7.8.26 WIB
Last Updated 2026-08-07T02:57:04Z
-UTAMABERITA TERKINIBERITA-UTAMAHUKUMPEMERINTAHREGIONALWARGA LAPOR

KOMEDI PUTAR" PASAR KEPUTRAN: Ketika "Saya Tidak Tahu" Menjadi Mantra Sakti Sang Direktur

Advertisement


Banaspatiwatch.co.id||Surabaya-- Gedung kantor PT PASAR SURYA PERSERODA mendadak berubah fungsi menjadi panggung teater komedi absurd terkocak di Jawa Timur. Di bawah langit Kota Pahlawan yang gerah, sekelompok pedagang unggas Pasar Keputran dan Pasar Babakan diundang rapat. Niat hati ingin mencari secercah kepastian nasib relokasi, para pedagang justru disuguhi pemandangan epik, menyaksikan para pimpinan rapat saling melempar tatapan kosong dan kebingungan masal. 


"Kami bingung mas... karena diundang rapat di kantor PD PASAR hanya untuk menyaksikan pimpinan rapat yang bingung," seloroh salah seorang pedagang unggas Keputran yang standnya terdampak. Tepuk tangan untuk keahlian koordinasi yang luar biasa ini! 


MASTERPIECE INFRASTRUKTUR 

Tempat Penampungan Sementara Rasa "Hall Nikahan"


Jika Anda membayangkan Tempat Penampungan Sementara (TPS) yang disediakan adalah area pemotongan unggas yang higienis, lengkap dengan meja estetik, saluran saniter mumpuni, dan sekat zonasi yang rapi, maka Anda terlalu banyak berkhayal. 


Fakta di lapangan menunjukkan sebuah mahakarya arsitektur minimalis yang kelewat ekstrem. Stan di TPS yang dipaksakan ini hanyalah sebuah los kosong melompong tanpa lapak, apalagi meja. Alih-alih mirip pasar unggas modern, penampakannya justru lebih menyerupai sebuah hall gedung pertemuan serbaguna. 


Mungkin konsep tersembunyi dari Direksi adalah agar ayam-ayam yang akan dipotong bisa menggelar gala dinner atau berdansa terlebih dahulu sebelum dieksekusi. Infrastruktur penunjang belum siap, tetapi relokasi wajib jalan terus. Sungguh sebuah dedikasi yang membagongkan!



FESTIVAL "SAYA TIDAK TAHU" dari SANG DIREKTUR dan KABAG PEMASARAN 


Puncak dari komedi situasi ini terjadi saat sesi tanya jawab dibuka. Dengan wajah penuh harap, para pedagang melayangkan pertanyaan-pertanyaan krusial yang menyangkut hajat hidup mereka.

“Kapan persiapan TPS ini selesai total, Pak?”

“Bagaimana mekanisme dan asal-usul pasokan unggas yang kelak dipotong di TPS kelolaan PD Pasar ini, Pak?” 


Alih-alih mendapatkan jawaban teknis yang taktis, solutif, dan berwibawa layaknya seorang pemimpin top BUMD, Gianto Sulistyono, Direktur Pembinaan Pedagang PT Pasar Surya yang didampingi Kabag Pemasaran sebagai rekan grup lawakannya justru mengeluarkan jurus pamungkasnya. Dengan intonasi yang begitu kompak dan konsisten, mereka selalu menjawab singkat, padat, dan sangat tidak jelas: "SAYA TIDAK TAHU". 


Luar biasa! Tiga kata ajaib yang sanggup meruntuhkan ekspektasi ratusan pedagang dalam sekejap. Jika untuk menjawab pertanyaan dasar fungsionalnya saja beliau dengan fasih menjawab "Saya Tidak Tahu", maka publik patut bersimpati.Mari berpikiran positif. Mungkin kapasitas memori beliau memang sudah penuh karena harus menghafal tanggal gajian dan mengingat rute jalan ke mesin ATM. 


Lagipula, mengurus kontraktor dan "mengondikasikan" segala urusan pembangunan pasar—seperti yang dibocorkan salah satu anggota dewan—tentu sudah sangat menguras energi kreativitas beliau. Mengapa kita masih menuntut beliau untuk tahu tugas pokoknya sendiri? Jangan kejam, jadi direktur itu lelah!


SURAT CINTA UNTUK CAK ERI

Rekrutmen Direksi atau Titipan Paket?


Tragedi komunikasi dan ketidakbecusan manajerial di PT Pasar Surya ini tentu tidak boleh berhenti sebagai bahan lelucon di warung kopi saja. Kritik tajam dan tamparan keras patut dilayangkan langsung ke meja Walikota Surabaya, Eri Cahyadi. 


Wahai Walikota Surabaya, urusan pasar tradisional dan isi perut wong cilik bukanlah tempat untuk bermain-main atau membagi-bagi jatah kursi nyaman! Proses rekrutmen seorang direktur di jajaran BUMD kota ini sudah saatnya memiliki parameter yang jelas, transparan, dan berbasis pada kredibilitas kinerja nyata. 


Pedagang dan masyarakat Surabaya membutuhkan sosok pemimpin yang responsif menghadapi keluhan lapangan, serta solutif saat membentur hambatan, bukan figur yang minim kecakapan dan dipaksakan duduk di sana hanya karena faktor "titipan" alias kedekatan politik semata! 


Jangan sampai jargon 'Surabaya Kota Dunia' runtuh hanya karena urusan pasar unggas diurus oleh manajemen bermental "ndeso" yang hobi memelihara ketidakpastian.

Jika jajaran direksi dipelihara hanya untuk memamerkan kebingungan di depan rakyat, maka lebih baik papan nama kantor dirubah saja menjadi "Sanggar Seni Ketoprak Humor Pasar Surya".


(Wied)