Iklan

Kamis, 06 Agustus 2026, 6.8.26 WIB
Last Updated 2026-08-06T07:14:03Z
-UTAMABERITA TERKINIBERITA-UTAMAPEMERINTAHREGIONALWARGA LAPOR

INVESTIGASI JILID 2: PENGOLAHAN SAMPAH BENOWO TERBAKAR ATAU DIBAKAR?

Advertisement


Oleh: Tri Widayanto 

Kordinator Liputan Jawa Timur 

Banaspatiwatch.co.id

Banaspatiwatch.co.id||Surabaya-- Misteri besar menyelimuti langit Surabaya Barat. Kompleks infrastruktur vital Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Benowo, jantung dari megaproyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) pertama di Indonesia, mendadak ludes dilalap api. Publik pun tersentak oleh satu pertanyaan krusial yang menggetarkan nalar, pakah kehancuran fasilitas teknologi tinggi bernilai ratusan miliar ini murni kecelakaan yang terbakar, atau sengaja dibakar demi melenyapkan jejak sebuah skandal struktural?


Tim Investigasi Banaspati Watch membongkar kejanggalan demi kejanggalan di balik runtuhnya sistem pengolahan sampah modern ini secara radikal.


KEDOK KEGAGALAN TEKNOLOGI BERNILAI RATUSAN MILIAR


Fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) thermal yang digadang-gadang sebagai teknologi mutakhir penuntas masalah ekologi kota, terbukti lumpuh total. Kebakaran hebat yang melumat habis jantung mekanis pengolahan sampah Benowo ini membongkar fakta mengerikan. Infrastruktur modern yang seharusnya dilengkapi sistem mitigasi bencana kelas wahid justru hancur tanpa perlawanan.


Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Timur langsung melontarkan kritik super tajam. WALHI menegaskan bahwa petaka Benowo bukanlah insiden teknis biasa. Ini adalah bukti sahih kegagalan total tata kelola sistem industri PSEL thermal yang dipaksakan. Proyek ambisius ini terbukti rapuh, tidak kompeten, dan gagal meredam risiko katastrofe mendasar, hingga akhirnya sistem pengolahan tersebut berubah menjadi CI Ltungku api raksasa yang mengancam keselamatan warga Kota Pahlawan.


BAU AMIS FINANSIAL 

Skenario "Penyelamatan" Rp120 Miliar


Kehancuran fasilitas pengolahan ini terjadi di titik paling kritis dalam sejarah korporasi pengelolanya, PT Sumber Organik. Berdasarkan dokumen yang diendus redaksi, perusahaan ini sedang megap-megap di ujung tanduk kebangkrutan dan terancam default (gagal bayar) kepada pihak lender serta kreditur akibat pemangkasan Dana Alokasi Khusus (DAK) oleh pemerintah pusat.


Namun, sebuah "keajaiban" anggaran mendadak cair tepat saat krisis memuncak. Menteri Keuangan bersama Purbaya Yudhi Sadewa mengambil langkah darurat menyuntikkan dana fantastis lebih dari Rp120 miliar untuk mengamankan Biaya Layanan Pengolahan Sampah (BLPS). Anggaran TA 2025 yang tertunda digabungkan secara kilat dengan alokasi TA 2026 melalui pagu Kementerian Lingkungan Hidup.


Publik kini digerogoti kecurigaan besar, Apakah fasilitas pengolahan tersebut sengaja dikorbankan sebagai taktik smoke screen (pengalihan isu) untuk menutupi bobroknya manajemen operasional? Ataukah api sengaja disulut demi memutihkan sisa tunggakan dan memanipulasi data kapasitas riil pengolahan mesin thermal yang tidak pernah mencapai target operasional?


FAKTA KEGAGALAN TATA KELOLA 



TUNTUTAN HUKUM

Bongkar Dalang di Balik Asap Beracun!


Masyarakat Surabaya menolak dibodohi oleh retorika manis penyelamatan lingkungan. Saat uang rakyat senilai Rp120 miliar digelontorkan demi menyuapi entitas swasta swadaya yang nyaris bangkrut, lalu fasilitas utamanya mendadak hangus terbakar, aroma konspirasi korporasi tak lagi bisa ditutupi.


Aparat penegak hukum, Polda Jatim dan Polrestabes Surabaya, harus bertindak agresif! Jangan hanya melihat insiden ini sebagai kebakaran fisik biasa. Periksa jajaran Direksi PT Sumber Organik! Audit menyeluruh penggunaan dana BLPS dari KLHK! Rakyat Surabaya berhak tahu apakah megaproyek ini murni hancur oleh kegagalan teknologi, atau sengaja dihanguskan demi meredam jejak-jejak audit keuangan yang mulai mengendus penyimpangan struktural!

Tim Investigasi Banaspati Watch akan terus mengawal kasus ini, hingga seluruh tikus birokrasi dan korporasi yang bermain di Benowo diseret ke pengadilan tipikor! 


(Wied)