Advertisement
Banaspatiwatch.co.id||Surabaya-- Sejarah kerap ditulis oleh para pemenang, namun detak jantungnya justru dirawat oleh mereka yang terlupakan di sudut sepi. Menjelang peringatan Kerusuhan 27 Juli 1996 (Kudatuli), Kota Surabaya kembali memanggil memori kolektif tentang air mata, darah, dan kesetiaan yang membara.
Di tengah riuh megahnya panggung politik hari ini, ada sebuah kisah lirih dari Solikan (58 tahun), seorang kader PDI Pro-Mega yang kini merayap dalam kesunyian, berjuang melawan kepedihan karena merasa keikhlasannya telah digugat oleh waktu.
Berikut adalah narasi refleksi mendalam yang merajut kembali rekam jejak perjuangan, kesetiaan, hingga kepiluan sang penjaga marwah dari Surabaya.
MERAH MEMBARA DI SUKOLILO
Awal Mula Sebuah Janji Jiwa
Jauh sebelum reformasi mengetuk pintu ibu kota, Surabaya telah menjadi rahim bagi perlawanan demokrasi. Pada Kongres Luar Biasa (KLB) PDI di Sukolilo tahun 1993, nama Megawati Soekarnoputri mulai digariskan menjadi simbol perlawanan terhadap rezim. Di sanalah Solikan, yang saat itu merupakan pengusaha muda di bidang mainan dan makanan ringan, menyerahkan seluruh hidupnya.
Bukan sekadar simpatisan, Solikan adalah mesin penggerak yang sunyi. Atas instruksi lisan dari tokoh legendaris Sabam Sirait, ia memikul tanggung jawab besar yaitu mengawasi dan menjaga keselamatan Ibu Megawati selama berada di Asrama Haji Sukolilo.
Ingatannya masih basah saat mengenang momen magis di Rumah Makan Tedy Bunaken. Solikan berkesempatan duduk satu meja, mendampingi sang ratu adil dalam keheningan. Usai bersantap, saat ribuan orang berdesakan berebut menjabat tangan Megawati, Solikan memilih berdiri membeku di sudut ruang. Matanya tak lepas menatap jemari Megawati, menjaga dengan penuh kecemasan agar cincin zamrud di jari sang ibu tak jatuh terlepas di tengah lautan manusia. Baginya kala itu, menjaga Ibu Mega adalah menjaga masa depan demokrasi Indonesia.
Kesetiaan itu mewujud nyata saat Imam Suroso, Ketua DPD PDI Peralihan Jawa Timur, memintanya memproduksi atribut perlawanan. Tanpa proposal, tanpa hitungan untung-rugi, Solikan membiayai dan menyerahkan secara sukarela 1.200 kaos berwarna merah membara bertuliskan “KLB Sukolilo 1993”. Ia rela meninggalkan usahanya yang sedang berkembang, mendedikasikan tenaga, pikiran, hingga materi demi satu keyakinan, gagasan Bung Karno dan kedaulatan Megawati harus tegak.
AIR MATA DI BALIK LEMBAR TAGIHAN
Saat Kepercayaan Dianggap Kebohongan
Waktu bergulir, kekuasaan telah diraih, namun roda nasib Solikan berputar ke arah yang menyayat hati. Alih-alih memanen manisnya perjuangan, pria yang kini menginjak usia senja itu justru terhimpit beban finansial yang menyesakkan dada. Total dana sebesar Rp 680 juta—termasuk Rp 350 juta pada tahun 2019 untuk bingkisan lebaran partai, serta dana operasional lain yang dititipkan melalui almarhum dua orang lurah dan tenaga OS—kini menjadi utang yang mencekik lehernya. Uang itu ia dapat dari hasil memeras keringat di Biro Jasa Perizinan, pinjaman, hingga berutang ke berbagai pihak.
Langkah kakinya terasa berat saat melayangkan surat ke DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya pada 22 Mei 2026. Alih-alih pelukan hangat layaknya saudara sepersusuan dalam perjuangan, Solikan justru dihadapkan pada dinding birokrasi yang dingin. Ia diminta menunjukkan bukti serah terima secara tertulis.
"Yang ditanya bukti serah terima... Padahal uang itu saya serahkan secara langsung pada pimpinan partai saat itu untuk keperluan partai. Karena percaya dan menjaga marwah saat itu, sehingga tabu bagi kami untuk meminta tanda terima," ucap Solikan dengan suara bergetar, menahan bendungan air mata yang nyaris pecah.
Di dalam tradisi pejuang masa lalu, sebuah komitmen diikat oleh kehormatan dan jabat tangan, bukan selembar kwitansi. Namun hari ini, ketiadaan kertas formal itu membuat Solikan terpojok, seolah-olah seluruh cerita pengorbanannya hanyalah dongeng dusta.
"Kalau saya dianggap berbohong tidak apa-apa. Saya ikhlas... Cuman ini bertentangan dengan nurani saya. Bagaimana bisa, kok jadinya seperti ini?" imbuhnya lirih, menyiratkan luka batin yang jauh lebih perih daripada kebangkrutan materi.
KUDATULI SEBAGAI CERMIN RETAK POLITIK
Kisah Solikan adalah potret melankolis tentang bagaimana romantisme masa lalu berbenturan dengan realisme politik modern yang pragmatis. Di saat para elit merayakan bulan Juli dengan refleksi heroik di hotel-hotel berbintang, seorang pejuang tua di Surabaya sedang kebingungan mencari arah, merenung di sudut rumahnya, memikirkan bagaimana cara melunasi utang yang ia bawa demi kejayaan partai.
Ia tidak meminta mahkota, tidak pula meminta panggung didepan kamera. Ia hanya ingin didengarkan, dihormati ruang batinnya, dan tidak diputar-balikkan opininya hingga membuatnya merasa terasing di rumah yang turut ia bangun pondasinya.
Momen menjelang Peringatan Kudatuli ini semestinya tidak sekadar menjadi ritual tahunan pembacaan puisi atau tabur bunga. Kisah Solikan adalah sebuah cermin retak bagi seluruh elit politik. Sebuah pengingat yang meratap, agar mereka yang kini duduk di kursi empuk kekuasaan sudi melihat ke bawah, mawas diri, dan tidak melupakan keringat serta air mata para martir kecil yang pernah merajut baju kebesaran mereka. Karena ketika ketulusan seorang kader dianggap sebagai kebohongan, di sanalah sejatinya esensi dari perjuangan demokrasi itu sedang mengalami sekarat.
(Wied)

