Iklan

Senin, 27 Juli 2026, 27.7.26 WIB
Last Updated 2026-07-27T03:13:58Z
-UTAMABERITA TERKINIBERITA-UTAMAHUKUMPEMERINTAHREGIONALWARGA LAPOR

SOSIALISASI GAIB BERUJUNG RICUH: Amarah Pedagang Pasar Unggas Melawan Keangkuhan 'Pejabat Titipan' PT Pasar Surya!

Advertisement


Banaspatiwatch.co.id||Surabaya-- Slogan modernisasi pasar yang digelorakan Pemerintah Kota Surabaya lagi-lagi menyisakan aroma busuk pemaksaan kehendak. Kali ini, sandiwara birokrasi beralih rupa menjadi ketegangan nyata. Pertemuan antara pedagang Pasar Unggas dengan jajaran direksi PT Pasar Surya Surabaya (Perseroda) pada Jumat, 24 Juli 2026 kemarin, berakhir ricuh dan menyisakan gelombang kemarahan yang membubung tinggi.

Alih-alih menjadi pengayom yang membawa solusi, kehadiran Direktur Pembinaan Pedagang (DPP) PT Pasar Surya, Gianto S., justru memantik api konflik di tengah-tengah pedagang yang sudah lama menahan sabar.


KEBIJAKAN 'GAIB' TANPA PARAMETER 


Akar keributan ini bermula dari sikap bebal pihak Perseroda yang diwakili oleh Gianto. Dengan nada angkuh, sang Direktur bersikukuh bahwa seluruh kebijakan sepihak yang mereka turunkan telah melalui proses kajian matang bersama Pemkot Surabaya.

Namun, ketika cecaran pertanyaan dari pedagang mulai menyudutkannya untuk membuka isi kajian tersebut, Gianto mendadak gagap. Tidak ada indikator, tidak ada parameter, apalagi transparansi yang logis. Semuanya serba gaib.


"Bagaimana mungkin institusi sekelas Perseroda mengambil kebijakan yang mencekik hajat hidup orang banyak hanya bermodalkan kalimat 'sudah dikaji Pemkot'? Ini kajian ilmiah atau bisikan supranatural? Jangan membodohi kami dengan regulasi pesanan!" bentak H. Hafidz, yang akrab disapa Gus Abunawas selaku juru bicara pedagang, dengan nada bergetar menahan amarah.

Suasana kian mencekam saat perwakilan pedagang lainnya yang kehilangan kesabaran mulai menggebrak meja, memprotes keras pemaksaan sepihak yang dinilai sama sekali tidak berpihak pada rakyat kecil.




DPP BERMASALAH 

Datang Ditolak, Pulang Dicerca


Ironi terbesar dari carut-marut ini terletak pada sosok Gianto sendiri. Menyandang jabatan mentereng sebagai Direktur Pembinaan Pedagang, kinerjanya di lapangan justru menjadi lelucon pahit. Alih-alih membina, jejak rekamnya justru dipenuhi oleh penolakan demi penolakan dari akar rumput.


Mulai dari kisruh di Keputran Selatan akibat pengingkaran resume rapat yang telah disepakati bersama, hingga konflik serupa di Babaan, membuktikan bahwa ia ama sekali tidak punya legitimasi di mata para pedagang pasar. 

Bahkan, kegagalannya mengelola sektor parkir sampai memaksa Walikota turun tangan melakukan sidak langsung di Pasar Tunjungan.


Kabar burung yang beredar di koridor pasar bahkan menyebutkan bahwa sang direktur kerap kali 'menjual' nama musisi besar Ahmad Dhani—yang diklaim sebagai teman satu angkatan semasa di SMA 2 Surabaya—sebagai tameng untuk menutupi rapor merah kinerjanya yang hancur lebur.


KABAG PEREKONOMIAN SURABAYA SENGAJA 'MASUK ANGIN'?


Sorotan tajam kini beralih kepada Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Pemerintah Kota Surabaya, Vykka Anggradevi Kusuma, S.STP..Sikap diam seribu bahasa yang dipertontonkan Vykka memicu kecurigaan publik yang sangat beralih alasan. 

Ada apa di balik pembiaran ini?


Padahal beberapa waktu sebelumnya, dalam hearing resmi di Komisi B DPRD Kota Surabaya yang dihadiri langsung oleh Gus Abunawas, Gianto, dan Kabag Perekonomian tersebut, sempat terucap dengan tegas sebuah tuntutan dari salah satu peserta hearing. Segera evaluasi dan copot jabatan Gianto!


Namun, hingga detik ini, laporan resmi tersebut seolah menguap begitu saja di meja Kabag Perekonomian. 

Vykka tetap hening, seakan-akan badai penolakan di bawah hanyalah riak kecil yang tidak berarti. Pembiaran ini dinilai sengaja dilakukan demi melindungi kroni, sementara kekacauan di tingkat pedagang dibiarkan semakin menganga dan merusak tatanan kemajuan Kota Surabaya.


Pedagang pasar tradisional bukanlah beban negara, melainkan pejuang mandiri yang menghidupkan urat nadi ekonomi bangsa dan sudah semestinya mendapatkan perhatian khusus dari para penyelenggara negara.


Kini, rakyat Surabaya, khususnya para pedagang kecil, menanti sebuah ketegasan yang nyata. Mereka menolak untuk terus terhimpit di bawah bayang-bayang ego pejabat dan kebebalan birokrasi yang seolah dipelihara di atas tetesan keringat penderitaan para pencari nafkah yang setia menjaga denyut nadi pasar-pasar tradisional.


(Wied)