Advertisement
Banaspatiwatch.co.id||Surabaya-- Tabir kepalsuan di balik panggung gemerlap mantan finalis Cak & Ning Surabaya 2019 kembali menguak fakta mencengangkan. Penangkapan Ronzah Adenin (RA) atas dugaan kepemilikan narkotika jenis sabu kini memasuki babak baru yang jauh lebih panas dan tajam mengiris urat nadi integritas publik.
Bukan di sebuah rumah di kawasan elite Dukuh Pakis seperti yang ramai digulirkan opini publik lewat narasi media arus utama yang dangkal, kronologi hitam yang sebenarnya justru ditengarai terjadi di jantung kota tua Surabaya.
Kendati demikian, pemaparan ini sama sekali tidak bermaksud untuk menghakimi secara sepihak. Diperlukan asas praduga tak bersalah serta verifikasi lebih lanjut untuk menguji validitas dan kebenaran informasi dari sumber tersebut sebelum hukum memberikan putusan akhir.
MALAM JAHANAM DI SURABAYA UTARA
Berdasarkan informasi eksklusif yang dihimpun dari sumber internal kepolisian yang keberatan disebutkan namanya, petaka ini bermula pada Kamis malam, 15 Oktober 2026. RA diketahui berangkat menikmati gemerlap dunia malam bersama lingkaran koleganya di sebuah kelab malam tersembunyi di komplek pertokoan kawasan Surabaya Utara.
Namun, yang membuat publik meradang bukanlah sekadar pesta pora sang mantan duta lalu lintas, melainkan sosok yang duduk satu meja dengannya. Masih menurut sumber terebut, ia menyebutkan, dua di antara rekan dugem RA malam itu adalah oknum anggota DPRD Kota Surabaya aktif berinisial "A" dan "E" dari salah satu partai politik di Kota Pahlawan.
Singkat cerita, usai pengaruh alkohol dan dentuman musik malam mulai mereda, RA diduga diperintah dan disetir oleh kedua oknum wakil rakyat tersebut untuk menjadi "kurir dadakan".
Berbekal segebok uang tunai yang diserahkan langsung oleh salah satu oknum anggota dewan, RA meluncur membelah pekatnya malam menuju kawasan seputar Makam Sunan Ampel—sebuah ironi besar di mana tempat religi dinodai oleh transaksi barang haram.
PENANGKAPAN TANPA AMPUN DI AMPEL
Nasib malang tak dapat ditolak. Begitu barang haram jenis sabu itu berpindah tangan dan RA hendak berbalik arah menuju titik temu yang telah disepakati bersama sang oknum dewan, pergerakannya langsung dikunci. Tim Satresnarkoba Polres KPPP Tanjung Perak yang telah mengendus pergerakan sang kurir bergerak bak hantu malam. RA diringkus tanpa perlawanan berarti.
Di sinilah ujian integritas sesungguhnya dimulai. Mengetahui "pion" mereka tertangkap, kepanikan melanda kubu sang pemesan. Bukan rahasia lagi jika dalam lingkaran hitam narkoba, uang sering kali menjadi pelicin untuk membungkam hukum.
Sumber internal tersebut juga membisikkan bahwa perwakilan kantor partai mereka sempat mencoba mengulurkan umpan lambung berupa tawaran "uang damai" dalam jumlah fantastis demi mengaburkan keterlibatan kader mereka.
INTEGRITAS BAJA SANG TIGA BALOK DI PUNDAK
Namun, mereka salah sasaran. Tim Satresnarkoba Polres KPPP Tanjung Perak yang dikomandoi langsung oleh AKP Adik Agus Putrawan menunjukkan mengapa mereka menyandang predikat sebagai "juara pemberantasan dan penangkapan narkoba se-Jawa Timur".
Alih-alih tergiur oleh tumpukan rupiah yang bisa menjamin masa depan, AKP Adik Agus Putrawan bersama pasukannya berdiri kokoh bagai benteng baja. Mereka menolak mentah-mentah segala bentuk intervensi politik dan iming-iming suap.
Sebuah tamparan keras bagi para pesohor politik yang merasa hukum bisa dibeli dengan materi. Ketegasan tanpa kompromi ini patut diacungi jempol setinggi-tingginya dan menjadi oase di tengah dahaga publik akan penegakan hukum yang bersih.
MENANTI NYALI SERET "SANG BOS BESAR"
Di balik jeruji besi yang kini mengurung RA, sebuah ujian besar sedang mengintai kredibilitas institusi kepolisian. Beranikah aparat melangkah lebih jauh menembus barikade politik?
Redaksi telah melayangkan upaya konfirmasi melalui pesan singkat WhatsApp kepada Kasatnarkoba Polres Tanjung Perak guna menggali kelanjutan kasus ini, namun hingga berita ini naik cetak, belum ada jawaban resmi yang membuahkan hasil.
Sunyi yang dilempar pihak otoritas justru memantik rasa penasaran publik yang kian membara.
Kini, mata seluruh warga Surabaya tertuju pada Kapolres Tanjung Perak dan ketegasan AKP Adik Agus Putrawan. Harapan dan kepercayaan penuh dititipkan di pundak mereka agar api keberanian itu tidak padam di tengah jalan.
Masyarakat mendesak agar kepolisian tidak tebang pilih dan puas hanya dengan menangkap kurir sekecil RA. Seret dan telanjangi dua oknum anggota dewan berinisial "A" dan "E" yang diduga kuat menjadi otak intelektual dari bisnis hitam ini. Sebab, membiarkan sang pemesan melenggang bebas adalah bentuk pengkhianatan nyata terhadap rasa keadilan masyarakat.
(Wied)

