Advertisement
Banaspatiwatch.co.id||SURABAYA-- Sebuah pemandangan langka nan ajaib tersaji di kawasan Kampung Malang V Komplek 71, RT 05 RW V, Kelurahan Tegalsari, Kecamatan Tegalsari, Kota Surabaya. Saluran air lokal yang biasanya "setia" mengoleksi sedimentasi purba dan dekorasi sampah plastik khas peradaban modern, mendadak mengalami intervensi fisik skala besar.
Bukan oleh armada oranye berseragam dinas resmi, melainkan oleh puluhan pendekar berpakaian hitam-hitam dari Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Ranting Tegalsari. Di bawah komando langsung Sang Ketua Ranting, Arik Santoso, S.H., atau yang lebih akrab disapa khalayak sebagai Gus Bondan.
Para pesilat ini sukses mengalihfungsikan jurus-jurus pencak silat mereka menjadi jurus "pencak sampah" demi membebaskan aliran air dari jerat sumbatan.
SAAT PENDEKAR BERTARUNG MELAWAN SAMPAH, WARGA MALAH JADI PENONTON
Ironisme sosial seolah menjadi bumbu wajib yang membuat geleng-geleng kepala dalam aksi heroik lingkungan ini. Di saat para pendekar PSHT bermandikan keringat dan lumpur hitam legam demi menyelamatkan lingkungan dari ancaman banjir musiman, sebagian besar warga setempat justru menunjukkan tingkat ketenangan sosiologis yang luar biasa tinggi.
Mereka memilih memandang aksi peduli lingkungan ini sebelah mata—atau mungkin menyaksikannya dari balik jendela rumah yang nyaman layaknya menonton tayangan realitas di televisi.
Dari puluhan kepala keluarga yang diuntungkan oleh bersihnya saluran air tersebut, hanya segelintir warga yang mendadak tersadar dari "hibernasi sosial" mereka. Bentuk kepedulian yang ditunjukkan, yakni menyediakan konsumsi buat para pesilat yang kerja bakti.
Sebuah skenario gotong royong modern yang unik, di mana satu pihak menyumbang tenaga ekstra-keras, sementara pihak lain bertindak sebagai seksi konsumsi sekaligus komentator jalannya laga pembersihan.
DINAS LINGKUNGAN HIDUP JAWARA KEHENINGAN BIROKRASI
Aksi swadaya para pendekar PSHT ini sekaligus menjadi tamparan estetis bagi Pemerintah Kota Surabaya, khususnya Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
Kota Surabaya yang kerap memamerkan sederet piala adipura dan penghargaan tata ruang hijau di panggung nasional, tampaknya memiliki titik buta (blind spot) geografis yang cukup pekat di sudut Tegalsari.
Pasifnya peran DLH dalam pemeliharaan rutin aliran sungai di pemukiman padat ini memaksa ormas kepemudaan turun tangan mengambil alih tupoksi yang seharusnya dibiayai oleh uang pajak rakyat.
Fenomena ini memicu pertanyaan menggelitik bagi para pembaca, apakah dinas terkait sedang sibuk melakukan studi banding estetika lingkungan di tempat lain, hingga lupa bahwa genangan air di Kampung Malang V juga membutuhkan sentuhan kerja nyata?
MENAKAR KADAR KEPEKAAN
Nurani Mengalahkan Regulasi!
Aksi bakti sosial yang diinisiasi oleh PSHT Ranting Tegalsari ini pada akhirnya menjadi cermin retak bagi tatanan sosial dan birokrasi di Kota Pahlawan.
Ketika dinas terkait mulai kehilangan sensitivitas lapangannya dan memilih bersembunyi di balik tumpukan berkas laporan kuartalan, serta saat masyarakat lokal lebih nyaman menjadi penonton pasif di tanah kelahiran sendiri, para pendekar silat ini justru membuktikan bahwa "Setia Hati" bukan sekadar nama organisasi.
Mereka memiliki hati nurani yang tegak lurus untuk merawat bumi pertiwi—meski kontribusi nyata itu harus dibayar mahal dengan pandangan sebelah mata dari warga sekitar dan sepiring gorengan dingin yang disajikan tanpa basa-basi.
Melalui aksi nyata di Kampung Malang V ini, Gus Bondan dan puluhan anggotanya tidak hanya berhasil menormalisasi aliran air yang sempat tersumbat ego perkotaan. Lebih dari itu, mereka telah berhasil menampar keangkuhan sistem birokrasi Kota Surabaya dengan cara yang paling sopan, paling elegan, dan tentu saja, paling membuat telinga para pemangku kebijakan memerah menahan malu.
Kita tunggu saja, apakah setelah saluran air ini bersih, pihak dinas terkait baru akan datang untuk sekadar berfoto dan mengklaimnya sebagai indeks prestasi kinerja lingkungan? Waktu yang akan menjawab.
(Wied)


