Iklan

Sabtu, 17 Oktober 2026, 17.10.26 WIB
Last Updated 2026-10-17T08:00:11Z
-UTAMABERITA TERKINIBERITA-UTAMAHUKUMPEMERINTAHREGIONALWARGA LAPOR

MONUMEN KEBODOHAN DI JANTUNG RUNGKUT: PROYEK SILUMAN PT KUSUMA INDAH PRATAMA MENANTANG MAUT DAN HUKUM

Advertisement


Banaspatiwatch.co.id||SURABAYA,17 Oktober 2026___ Ketika malam merayap di Jalan Tenggilis Mejoyo No. 28, Kali Rungkut, Kota Surabaya seolah bertransformasi menjadi panggung teatrikal komedi hitam yang mengerikan. 

Di bawah temaram lampu seadanya pada Kamis dini hari, 8 Oktober 2026, PT Kusuma Indah Pratama dengan sukses mementaskan sebuah drama kolosal bertajuk, “Bagaimana Cara Mengabaikan Regulasi Negara dalam Semalam.”


Proyek pemasangan box culvert yang seharusnya menjadi solusi banjir, secara ajaib menjelma menjadi sebuah proyek siluman yang paripurna. Di lokasi, Anda tidak akan menemukan papan nama proyek. Informasi anggaran, transparansi, target penyelesaian, hingga penanggung jawab sengaja dieliminasi dari pandangan publik. Sebuah taktik brilian untuk menciptakan kepalsuan akuntabilitas, seolah proyek ini didanai oleh uang gaib, bukan dari keringat pajak masyarakat.


SIRKUS MAUT TANPA LAMPU DAN PANGGUNG GLADIATOR K3


Bagi warga yang melintas di area tersebut pada sepertiga malam, selamat datang di jebakan maut gratis. Jalur protokol ini dibiarkan gelap gulita tanpa satu pun lampu LED pengaman yang memadai.


Penyelenggara proyek tampaknya sangat meyakini bahwa pengguna jalan di Surabaya memiliki kemampuan navigasi ekstrasensorik atau night-vision layaknya kelelawar, sehingga tanda peringatan dini dan keberadaan flagman (petugas pengatur lalu lintas) dianggap sebagai fasilitas yang terlalu mewah dan mubazir.


Tidak kalah membagongkan adalah pemandangan di dalam lubang galian. Antara pukul 00:28 hingga 00:37 WIB, sebuah pemandangan mengerikan tersaji, para pekerja dipaksa bertaruh nyawa di dalam kegelapan labirin tanah tipis yang rawan longsor. 

Tanpa helm pelindung standar, tanpa rompi reflektor, dan tanpa sepatu keamanan—mereka dilempar ke medan laga layaknya gladiator modern yang sedang mengadu nasib melawan beton-beton masif. 


Di era modern ini, PT Kusuma Indah Pratama berhasil membuktikan bahwa dalam kalkulasi bisnis mereka, nyawa manusia jauh lebih murah dibandingkan harga satu set atribut K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja).


FEBRY NGAMUK, DIKONFIRMASI MALAH MERADANG 


Puncak dari komedi hitam ini terjadi saat awak media mencoba melakukan fungsi kontrol sosial langsung di lokasi kejadian. Menemui Febri, sang pelaksana lapangan yang bertanggung jawab atas sirkus maut ini, jurnalis justru disambut dengan respons yang meledak-ledak penuh nada amarah.


Alih-alih memberikan jawaban taktis penuh kehati-hatian khas korporasi, Febri justru meradang dengan tensi tinggi saat dicecar pertanyaan mengenai ketiadaan papan proyek dan nihilnya standar keselamatan pekerja. 


Dengan mata melotot dan nada suara membentak yang membelah keheningan malam, ia secara blak-blakan—dan tanpa rasa bersalah sedikit pun—membenarkan bahwa proyek tersebut memang sengaja dijalankan tanpa papan nama. 


Gestur defensif dan penuh kemarahan ini seolah mengirimkan pesan arogan yang jelas kepada publik: “Kami kebal hukum, dan masyarakat tidak punya hak untuk tahu!”


KOMITMEN WALIKOTA YANG DIKANGKANGI DI SEPERTIGA MALAM


Tindakan ugal-ugalan PT Kusuma Indah Pratama ini adalah bentuk tamparan keras tepat di wajah Pemerintah Kota Surabaya. Di tengah klaim lantang Wali Kota Eri Cahyadi yang tiada henti mendengungkan transparansi, keselamatan kerja, serta pengawasan ketat, kontraktor nakal ini dengan santai mengangkanginya di bawah selimut kegelapan malam.


Bagaimana mungkin Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya bisa kecolongan dan membiarkan praktik "kucing-kucingan" sekotor ini terjadi berulang kali? Apakah fungsi pengawasan pemkot telah mati pucuk, ataukah sengaja memejamkan mata?


Publik Surabaya hari ini tidak lagi butuh sekadar teguran administratif tertulis atau pemanggilan formal yang berujung salaman. Publik menuntut tindakan konkret: Hentikan paksa proyek siluman ini sekarang juga, berikan sanksi daftar hitam (blacklist) permanen kepada PT Kusuma Indah Pratama, dan periksa oknum-oknum pengawas yang dengan sengaja membiarkan kelalaian terencana ini. 


Jangan menunggu sampai ada darah masyarakat yang tumpah atau nyawa pekerja yang melayang di dasar lubang galian, baru otoritas terkait pura-pura terkejut dan sibuk mencari kambing hitam!


Aan