Advertisement
Banaspatiwatch.co.id||Surabaya-- Kali ini, mata publik dan investigasi tajam awak media tertuju pada mega proyek normalisasi saluran sistem Corrugated Concrete Sheet Pile (CCSP) di kawasan strategis Surabaya. Proyek prestisius bernilai miliaran rupiah dari APBD Kota Surabaya yang dikerjakan oleh PT Bangun Konstruksi Persada ini ditemukan dalam kondisi hancur dan cacat mutu sebelum sempat berfungsi maksimal!
Lebih parah lagi, saat tim investigasi di lapangan melakukan konfirmasi, oknum pelaksana serta konsultan pengawas justru memilih bungkam dan bersikap tertutup kepada jurnalis, memicu kecurigaan adanya konspirasi busuk untuk menutupi kebobrokan proyek milik figur yang santer disebut "Haji Yusuf" ini.
DATA LPSE
Ketakutan warga akan ancaman banjir massal akhirnya terbukti bukan isapan jempol semata. Berdasarkan pemeriksaan gabungan mendadak yang dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Surabaya bersama Konsultan Pengawas, ditemukan fakta mengerikan di lapangan yang mengarah kuat pada indikasi gagal konstruksi fatal. Dinding-dinding beton penahan tanah yang seharusnya kokoh berdiri, justru ditemukan retak-retak berhamburan.
DOSA BESAR KONTRAKTOR
4 Temuan Skandal Fatal di Lapangan
Investigasi mendalam berhasil menguliti empat borok utama cara kerja PT Bangun Konstruksi Persada yang terkesan "asal jadi" demi meraup keuntungan sepihak.
Beton Retak & Pecah Berjamaah!Batang-batang sheet pile mahal tersebut tampak mengalami retak rambut memanjang yang sangat parah, serta pecah di bagian ujung atas (top). Kuat dugaan, metode pemancangan dilakukan secara barbar dan dipaksakan, atau kualitas beton yang dikirim sengaja disunat di bawah spesifikasi teknis wajib K-350.
"Kalau struktur betonnya sudah cacat dan retak, sistem interlock-nya otomatis hancur. Air dan tekanan tanah lumpur akan menerobos masuk dari celah-celah itu!" cetus salah satu Konsultan Struktur senior dengan nada geram.
Tiang Pancang Miring Layaknya Menara Pisa!
Alih-alih bekerja profesional menggunakan guide frame penyangga yang kokoh, kontraktor nekat memancang beton secara sembarangan. Akibatnya, puluhan sheet pile melenceng miring hingga 5 sampai 8 derajat! Kemiringan ekstrem ini membuat sambungan antar-beton renggang menganga, memicu bom waktu runtuhnya dinding penahan tanah galian.
Korupsi Kedalaman Pancang, Disunat Hampir Separuh!
Melalui uji caliper dan pembongkaran data manifes pancang, terungkap skandal manipulasi kedalaman. Kontraktor hanya menanam beton sedalam 4,5 meter dari rencana wajib 6 meter di dalam Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS)! Alasan klasik mereka adalah terbentur lapisan tanah keras. Padahal, kontraktor nakal ini sama sekali belum melakukan proses pre-boring atau pengeboran awal sesuai prosedur wajib.
Abaikan Nyawa Pekerja & Material Sampah Tetap Dipakai!
Keserakahan kontraktor makin telanjang dengan ditemukannya tumpukan sheet pile retak yang masih terus dipaksakan untuk dipasang tanpa ada area karantina material gagal produksi. Tak hanya itu, aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dilecehkan secara total, para pekerja dibiarkan bertaruh nyawa bergelantungan di atas saluran air tanpa mengenakan safety belt pelindung keselamatan.
DESAKAN HUKUM
Walikota dan Kejaksaan Wajib Segera Seret Kontraktor!
Melihat ancaman bencana ekologis dan kerugian uang negara yang kasat mata, Walikota Surabaya serta Korps Adhyaksa Kejaksaan dituntut segera bertindak tegas tanpa pandang bulu! Aparat Penegak Hukum (APH) harus segera menerbitkan Surat Perintah Henti Sementara (SP 1) dan memeriksa seluruh aliran dana serta komitmen mutu proyek ini.
"Kami tidak main-main! Kami berikan ultimatum keras waktu 14 hari saja bagi PT Bangun Konstruksi Persada. Sebanyak 18 batang sheet pile yang retak dan pecah wajib dibongkar total dan diganti baru! Sebanyak 32 batang pancang yang miring di atas 3 derajat harus dicabut paksa dan dipancang ulang dari nol! Seluruh biaya kerugian dan perbaikan ini mutlak ditanggung 100 persen oleh pihak kontraktor, jangan coba-coba membebankannya pada rakyat!" tegas pihak otoritas pengawas dengan nada tinggi.
Otoritas terkait juga memastikan akan melakukan audit mutu beton secara radikal langsung ke batching plant penyedia, serta melakukan uji tarik kekuatan interlock sambungan. "Jangan sampai proyek yang menelan anggaran rakyat hingga miliaran rupiah ini umurnya cuma bertahan 2 tahun lalu hancur lebur!" tambahnya.
JERIT AMARAH WARGA
"Kalau Jebol, Rumah Kami yang Kebanjiran!"
Masyarakat di sekitar lokasi proyek yang selama ini dihantui kecemasan, akhirnya tumpah ruah meluapkan kekesalan mereka kepada awak media. Mereka menolak keras jika wilayah tempat tinggal mereka dijadikan objek uji coba proyek abal-abal.
"Kami sangat mendukung program normalisasi saluran ini, tapi jangan digarap asal-asalan dan terkesan mengejar setoran! Uang yang dipakai itu uang rakyat! Kalau dinding beton ini sampai jebol karena konstruksinya bobrok, rumah-rumah kami yang akan tenggelam kebanjiran!" teriak salah seorang perwakilan warga setempat dengan mata berkaca-kaca menahan amarah.
Menanggapi gelombang protes dan temuan investigasi yang mematikan ini, Direktur PT Bangun Konstruksi Persada akhirnya tak berkutik dan menyampaikan permohonan maaf formal yang terkesan klise. "Kami pasrah menerima temuan ini. Kerusakan terjadi karena tingginya tekanan tanah lumpur dan ketidakcakapan operator crane kami di lapangan yang kurang pengalaman. Sebagai bentuk tanggung jawab, kami telah memecat pihak subkontraktor pemancang. Pekan depan, kami berjanji akan mulai membongkar 18 batang beton yang retak untuk diganti baru sesuai spek regulasi," aku sang Direktur dengan nada lemas.
PETAKA JIKA PEMKOT TUTUP MATA
Jika DPUPR dan Pemerintah Kota Surabaya membiarkan proyek cacat ini berlanjut tanpa pengawasan ketat, maka tiga petaka besar siap menghantam Kota Pahlawan.
Tanah Ambles & Jalan Retak
Kebocoran air (rembes) di balik celah beton retak akan mengikis struktur tanah secara masif, memicu fenomena tanah ambles yang sanggup menghancurkan jalan raya di sekitarnya.
Bencana Longsor Total
Hilangnya daya kunci antar-sheet pile akibat kemiringan ekstrem akan membuat dinding penahan jebol seketika saat dihantam debit air hujan tinggi.
Pemborosan Brutal APBD
Anggaran daerah terancam menguap sia-sia karena biaya perbaikan ulang akibat kegagalan struktur ini dipastikan akan membengkak hingga dua kali lipat dari nilai kontrak awal.
Masyarakat kini menuntut pembuktian janji DPUPR untuk menempatkan tim pengawas penuh waktu 24 jam di lokasi proyek demi memastikan rekomendasi perbaikan mendesak—termasuk sealing interlock menggunakan sealant bentonite serta uji lab independen lewat metode core drill beton—benar-benar dijalankan tanpa manipulasi lagi. Rakyat Surabaya akan terus mengawal kasus ini sampai tuntas! Jangan biarkan uang rakyat tenggelam bersama beton-beton retak PT Bangun Konstruksi Persada!
(An / Wied)

.jpg)
