Advertisement
Banaspatwatch.co.id||Surabaya-- Solidaritas tanpa batas dan genderang perang melawan premanisme bergema keras di Kota Pahlawan. Barisan massa yang tergabung dalam Arus Bawah Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Jawa Timur menegaskan posisi mereka untuk mengawal ketat proses hukum kasus pembacokan yang menimpa saudara mereka. Dengan narasi yang tegas dan tidak bertele-tele, mereka menuntut jajaran Aparat Penegak Hukum (APH) bertindak cepat dan tanpa kompromi.
Aksi massa yang sempat memadati jalanan Surabaya beberapa waktu lalu bukanlah bentuk anarki, melainkan sebuah panggilan suci atas dasar rasa kemanusiaan dan persaudaraan yang mengakar kuat. Kedatangan ribuan pendekar tersebut murni sebagai bentuk solidaritas nyata untuk menuntut keadilan, sekaligus meredam kekhawatiran masyarakat akan menjamurnya aksi premanisme yang meresahkan.
FOKUS UTAMA
Ganyang Premanisme Berkedok Debt Collector
Koordinator Arus Bawah PSHT Jatim, Mas Bondan, demikian panggilan akrabnya, secara blak-blakan membongkar akar masalah dan meluruskan persepsi publik agar tidak digeser ke arah isu SARA. Dirinya menekankan bahwa PSHT tidak pernah memiliki musuh dari suku, ras, atau golongan mana pun. Musuh bersama mereka adalah tindakan kriminalitas yang berlindung di balik profesi penagih utang.
"Tujuan kita tetap sama Mas, yaitu menuntut sebuah keadilan buat para premanisme-premanisme yang berkeduk debt collector. Untuk dugaan para pelaku yang telah melakukan pembacoan dan penganiayaan kepada saudara kami, segera dilakukan penangkapan secepat-cepatnya," tegasnya saat saat diwawancarai oleh beberapa jurnalis di Starbucks coffe Pakuwon Sabtu,(1/8/26).
Desakan penangkapan Daftar Pencarian Orang (DPO) ini disuarakan agar situasi kota kembali kondusif dan memberikan rasa aman bagi para anggota.
"Agar kami dan saudara-saudara kami yang dari Arus Bawah ini merasa tenang, dan merasa yakin bahwasannya dari aparat penegak hukum ini benar-benar telah bekerja maksimal, benar-benar dibuktikan kepada kami semua," tambahnya dengan nada tajam.
TRANSPARANSI MEDIASI BERSAMA KAPOLRESTABES SURABAYA
Dalam aksi yang berlangsung sebelumnya, perwakilan dari Arus Bawah PSHT telah diterima dengan baik oleh Kapolrestabes Surabaya untuk melakukan komunikasi dan mediasi secara langsung. Perwakilan massa, termasuk Mas Irul, Mas Bagus ( Kang Mas merupakan salah satu tradisi panggilan setiap pendekar yang telah melewati fase latihan tertinggi di tubuh PSHT, red. ) diberikan akses untuk melihat rekonstruksi awal perkara melalui rekaman kronologi kejadian.
"Kemarin ketika kita masuk diterima baik dengan Bapak Kapolrestabes Surabaya. Di situ kami memaksa dengan Mas Irul, kemarin kebetulan yang masuk ya, diperlihatkan kronologi awal kejadian. Jadi yang waktu di "pasar" itu sampai terjadinya adanya pembacokan seperti itu," ungkap Mas Bondan menceritakan transparansi pihak kepolisian.
Kabar baiknya, dua korban penganiayaan, yakni Mas Dedik dan Mas Ferry, saat ini kondisinya telah berangsur membaik dan sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit.
"Alhamdulillah kedua korban sudah pulang semua, Mas Dedik dan Mas Ferry. Yang kebetulan saya kemarin sempat membesuk ya, melihat Mas Dedik. Alhamdulillah Mas Dedik juga sudah membaik, tinggal untuk pengeringan luka di jahitan belakang sini sama lengannya," jelasnya.
MEMBUKA TANGAN demi PERDAMAIAN KOTA, TAPI HUKUM TETAP NOMOR SATU!
Menanggapi isu mengenai adanya gesekan antar-kelompok, Arus Bawah PSHT Jatim dengan berjiwa besar menyatakan selalu terbuka untuk berkomunikasi demi menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) di Surabaya. Namun, mereka menggarisbawahi bahwa perdamaian bukan berarti menghapuskan proses hukum bagi para pelaku kriminal.
"Gini, kami jelaskan ya, di sini kami PSHT Arus Bawah itu tidak bermusuhan ataupun tidak ingin memusuhi siapapun, termasuk di sini suku, kelas, ataupun golongan. Yang kami musuhi adalah premanisme-premanisme yang berkedok-kedok itu," cetus Mas Bondan meluruskan rumor.
Secara ksatria, beliau menambahkan posisi organisasi terhadap kelompok lain.
"Nah, kalaupun toh dari M1R ingin berkomunikasi dengan kami, kami menerima dengan kedua tangan terbuka. Karena lawan kita bukan M1R-nya, lawan kita bukan orang Ambon, lawan kita bukan orang Papua, lawan kita bukan orang Timur, tapi lawan kita adalah premanisme-premanisme yang berkedok debt collector yang ada di kota Surabaya ini."
ULTIMATUM FLEKSIBEL
Siap "Menghitamkan" Surabaya Kembali
Meskipun Arus Bawah PSHT tidak memberikan tenggat waktu yang kaku atau berniat mengintervensi tugas kepolisian, mereka memberikan sinyal peringatan yang sangat kuat. Jika penanganan hukum dinilai mandek atau berlarut-larut tanpa hasil konkret, gelombang massa yang jauh lebih besar dipastikan akan kembali turun ke jalan.
Saat ditanya wartawan mengenai target waktu bagi kepolisian, Mas Bondan menjawab dengan diplomatis namun sarat akan sebuah ketegasan.
"Kita fleksibel aja sih waktunya. Kita beri waktu ya mungkin satu minggu, dua minggu, atau mungkin bahkan satu bulan. Ketika nanti masih belum tertangkap atau belum diamankan DPO yang kemarin... ya mungkin kita akan membuat aksi lagi. Simpel aja gitu Pak. Tapi kita tidak ada intervensi ya, kita tidak ada intervensi kepada para APH karena kita juga tidak ada kapasitas di situ."
Namun, dirinya tidak menampik bahwa seluruh anggota di tingkat akar rumput memiliki mandat moral yang sama jika keadilan tidak kunjung tegak.
"Bila mana terlalu berlarut-larut, maka saya pastikan saya dan dulur semua Arus Bawah akan menghitamkan kota Surabaya lagi, akan lebih hitam lagi, akan lebih banyak lagi massa yang akan berdatangan. Karena kemarin dari wilayah ujung bisa berangkat juga demi tegaknya keadilan yang seadil-adilnya," pungkas Mas Bondan menutup wawancara.
Kini, bola panas berada di tangan aparat penegak hukum. Komitmen kepolisian untuk meringkus sisa pelaku yang buron akan menjadi penentu: apakah Surabaya tetap kondusif, ataukah kota ini akan kembali dipadati oleh lautan manusia berbaju hitam yang menuntut hak atas keadilan persaudaraan.
(Wied)

