Advertisement
Banaspatiwatch.co.id||Surabaya-- Ketika jarum jam baru saja menyentuh angka 03.16 WIB dini hari, keheningan di Jalan Simo Katrungan Baru pecah berantakan. Jago merah mendadak mengamuk hebat, melahap atap rumah milik seorang warga bernama Ade hingga luluh lantak menjadi arang. Di tengah situasi genting yang mencekam itu, sebuah ironi besar dan memuakkan tersaji di depan mata warga, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemerintah Kota Surabaya bertaruh nyawa di garis depan, sementara aparat Polsek Sawahan justru lenyap tanpa bekas bak ditelan bumi.
Sejak menit pertama alarm bahaya berbunyi, jajaran OPD Pemkot Surabaya langsung menunjukkan kelasnya sebagai pelayan publik yang sesungguhnya. Sebanyak 8 unit armada Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Surabaya diterjunkan ke lokasi, meraung-raung membelah malam, bertempur melawan kobaran api yang kian beringas.
Tak hanya Damkar, sinergi tingkat tinggi juga diperlihatkan oleh personel Satpol PP, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), PMI, hingga BPBD Kota Surabaya. Mereka bahu-membahu menaklukkan si jago merah hingga berhasil dipadamkan total sekitar pukul 04.30 WIB. Hebatnya lagi, respons cepat pasca-bencana langsung dieksekusi detik itu juga. BPBD Surabaya langsung menyerahkan bantuan tanggap darurat untuk 10 hari ke depan—mulai dari makanan siap saji, perlengkapan mandi, hingga perlengkapan tidur—yang diserahkan langsung secara nyata di hadapan perangkat kampung setempat.
Kesigapan dan kepedulian tanpa batas para birokrat kota ini benar-benar patut diacungi jempol setinggi-tingginya.
Namun, di balik heroisme Pemkot Surabaya, ada noktah hitam yang memicu kemarahan mendalam. Ke mana perginya pihak kepolisian yang katanya menjadi pelindung dan pengayom masyarakat?
Hingga kepulan asap terakhir menipis dan api dipastikan padam pada pukul 04.30 WIB, tak ada satu pun batang hidung anggota Polsek Sawahan yang tampak di lokasi kejadian. Absennya korps berbaju cokelat ini di tengah bencana yang menimpa warga Simo Katrungan menjadi sebuah tanda tanya besar sekaligus preseden buruk yang sangat memuakkan.
Akibat "tidur pulasnya" aparat Polsek Sawahan malam itu, konfirmasi resmi mengenai detail korban jiwa—yang beruntung dinyatakan nihil—serta kerugian materiil, sama sekali belum bisa diproses secara hukum dan formal di lokasi kejadian.
Ketidakhadiran Polsek Sawahan di tengah kepanikan warga ini tak pelak memicu gelombang kekecewaan dan kegeregetan publik yang luar biasa.
Saat dinas sipil pemerintah kota mampu bergerak cepat dalam hitungan menit demi menyelamatkan warga, aparat kepolisian yang memiliki struktur komando dan patroli justru gagal total memperlihatkan kehadirannya. Kejadian ini seolah menjadi tamparan keras bagi Polsek Sawahan, di mana nurani dan kesigapan kalian saat rakyat sedang menjerit ketakutan di tengah kobaran api?
(Wied)


