Advertisement
Banaspatiwatch.co.id||Surabaya-- Bau anyir darah di aspal Kertajaya Indah belum juga mengering, namun aroma busuk manipulasi hukum sudah menyengat hidung publik. Jimmy, putra konglomerat yang diduga kuat mengemudikan "mesin pembunuh besi" dalam kondisi hangover berat hingga mencabut nyawa rakyat jelata, kini diduga tengah memainkan sirkus medis di balik dinding steril Rumah Sakit Mitra Keluarga.
Saat jeruji besi sel tahanan Satlantas Polrestabes Surabaya seharusnya mengurung sang pembunuh jalanan, Jimmy justru menikmati kenyamanan fasilitas rumah sakit. Dalih pemeriksaan medis kini dicurigai publik sebagai tameng hukum paling sempurna untuk mengamputasi keadilan.
CELAH STERIL RS MITRA KELUARGA
Tempat "Skenario Nakal" Bermula?
Publik patut melempar mosi tidak percaya yang luar biasa tajam terkait proses pemeriksaan medis Jimmy. Penyidik kepolisian dengan nada tak berdaya berdalih bahwa ketika tersangka berada di dalam rumah sakit, kewenangan aparat penegak hukum menjadi "sangat terbatas" oleh regulasi medis. Pembatasan inilah yang diduga kuat menjadi celah menganga bagi Jimmy untuk melakukan langkah-langkah nakal nan licik.
Di balik tirai kamar perawatan RS Mitra Keluarga, siapa yang bisa menjamin kemurnian sampel urin, darah, dan rekam medis lainnya? Di sinilah dugaan manipulasi paling mengerikan itu mengintai. Apakah sampel darah yang diambil benar-benar mengalirkan alkohol kadar tinggi dari malam maut itu, ataukah sudah "dinetralisir" dan ditukar dengan cairan suci tanpa noda? Atau ditukar dengan darah keluarga atau orang lain? Begitu pula pemeriksaan rambut (bila memang telah dilakukan), tidak menutup kemungkinan semua bisa dilakukan dengan skenario sang predator agar selamat dari segala tuduhan yang memberatkan.
Sangat disayangkan jika otoritas medis dan keterbatasan wewenang polisi justru dijadikan karpet merah bagi si kaya untuk memanipulasi bukti sains. Jika hasil tes urin dan darah mendadak bersih secara ajaib, maka tamatlah pembuktian Pasal 311 ayat 5 UU LLAJ yang mengancamnya dengan pidana 12 tahun penjara!
PAJAK MOBIL MATI
Bukti Keangkuhan yang Menantang Hukum Negara
Kebejatan moral dan hukum dari sosok Jimmy tidak berhenti pada pembunuhan di jalan raya semata. Investigasi mendalam mengungkap fakta memuakkan lainnya, bahwa kendaraan mewah yang ia tunggangi saat menghantam korban ternyata dalam kondisi mati pajak!
Ini adalah bukti otentik betapa pelaku memandang hukum di negeri ini tak lebih dari sekadar lelucon. Pajak negara saja dikangkangi dan diabaikan, maka tak heran jika nyawa seorang manusia dinilai begitu murah oleh ego borjuasinya yang tak berdasar. Mobil bodong tanpa legitimasi pajak itu dibiarkan melesat menjadi peluru maut yang menghancurkan masa depan sebuah keluarga.
NYAWA MANUSIA DITAWAR MURAH
Dari Rp 192 Juta Hanya Dihargai Rp 50 Juta!
Puncak dari segala kebiadaban dan kekejian hati nurani Jimmy adalah saat proses negosiasi dengan keluarga korban. Kehilangan sosok tercinta yang takkan mungkin kembali telah menyisakan duka sedalam lautan. Pihak keluarga korban mengajukan tuntutan ganti rugi materiil yang sangat rasional, yakni sebesar Rp 192 juta, demi menyambung hidup dan membiayai kelayakan setelah pemakaman.
Namun, apa respons dari sang anak bos keramik bergelimang harta ini? Dengan keangkuhan yang membuat darah seluruh masyarakat Surabaya mendidih, Jimmy menawar nyawa korban layaknya barang rongsokan di pasar loak. Angka Rp 192 juta itu didegradasi secara sadis dan hanya ditawar sebesar Rp 50 juta!
Tawaran Rp 50 juta ini bukan sekadar penghinaan terhadap keluarga korban, melainkan tamparan keras langsung ke muka hukum dan kemanusiaan! Uang puluhan juta bagi seorang konglomerat mungkin hanya setara dengan biaya botol-botol alkohol yang ia tenggak saat hangover, namun bagi keluarga yang ditinggalkan, itu adalah sisa harga diri yang sedang diinjak-injak oleh kuasa uang.
HUKUM BERADA DI TITIK NADIR?
Jika penyidik Satlantas Polrestabes Surabaya tetap melempem, berlindung di balik alasan "keterbatasan wewenang di rumah sakit", dan membiarkan Jimmy mengulur waktu demi status tahanan kota atau penangguhan penahanan, maka bersiaplah menghadapi amukan sosial.
Masyarakat tidak butuh alasan normatif yang mandul! Publik Surabaya menuntut transparansi total atas pemeriksaan urin dan darah Jimmy di RS Mitra Keluarga secara independen. Jangan biarkan dinding rumah sakit menjadi tempat persekongkolan jahat untuk menghapus jejak alkohol.
Banaspatiwatch menegaskan dengan tinta darah,"Nyawa manusia tidak bisa dinegosiasikan, keadilan tidak boleh ditawar Rp 50 juta, dan sel penjara adalah satu-satunya tempat yang layak bagi predator jalanan bernama Jimmy! Kami menolak diam! Dan kami tetap mengawal sekalipun lewat tulisan!
(Wied)

