Advertisement
SOROT KASUS:
Banaspatiwatch.co.id||Surabaya-- Mungkin Banaspati Watch menjadi satu-satunya media yang mengetahui dan membongkar kasus ini.
Bau anyir ketidakadilan menyengat hebat dari balik jeruji besi Direktorat Perawatan Tahanan dan Barang Bukti (DirTahti) Polda Jawa Timur. Kematian Choirul Anam alias Irul pada 26 Juni 2026, tahanan yang diciduk atas kepemilikan 11 gram sabu-sabu, kini membuka kotak pandora yang mengerikan.
Di saat publik menuntut transparansi, oknum di korps bhayangkara justru mempertontonkan teater komedi putar yang murahan, penuh kepanikan, dan sarat akan upaya pembungkaman jurnalis.
Investigasi mendalam di area Mapolda Jatim menangkap gelagat super aneh dari seorang pria kurus berinisial "D" yang mendadak muncul dan mengaku sebagai "orang dalam". Dengan urat malu yang seolah sudah putus, D berdalih tanpa beban bahwa kematian Irul murni karena faktor kesehatan.
"Dia meninggal karena sakit, Mas. Saya kebetulan yang mendampingi tersangka saat itu," ucap D dengan nada enteng. Ironisnya, saat didesak mengenai kapasitasnya mendampingi korban sebagai apa, lidah pria kurus itu mendadak kelu dan tak mampu menjawab.
Kebohongan D langsung runtuh seketika saat awak media mencecar pertanyaan kunci. Ketika diminta memfasilitasi pertemuan dengan pejabat atau perwira di Direktorat Reserse Narkoba (Ditreskoba) Polda Jatim, D mendadak gugup dan melempar bola panas. Ia berdalih bahwa insiden tewasnya tahanan tersebut sepenuhnya berada di bawah pengawasan dan tanggung jawab DirTahti Jatim.
Namun, sandiwara D mencapai titik nadir saat jurnalis memintanya mempertemukan mereka dengan pejabat di DirTahti detik itu juga. Gelagapan dan panik, pria kurus ini langsung mematung, berpura-pura sibuk menempelkan ponsel ke telinganya, lalu buru-buru melangkah seribu menjauh dari "meja bundar" tempat ia semula duduk satu meja dengan para kuli tinta.
Aksi bungkam institusional ini kian telanjang setelah sebelumnya petugas jaga di gedung Ditreskoba yang mengaku bernama Edy turut pasang badan, memasang barikade, dan secara agresif menghalang-halangi wartawan yang ingin melakukan konfirmasi resmi kepada pejabat berwenang. Ada apa dengan Ditreskoba dan DirTahti? Mengapa institusi penegak hukum ini mendadak alergi kamera dan gagap bicara saat ada nyawa manusia melayang di kandang mereka sendiri?
Lebih gila lagi, dengan nada yang seolah menyepelekan harga diri sebuah nyawa, D sempat sesumbar mengenai seonggok uang santunan. "Bahkan uang duka lima juta rupiah sudah kita serahkan ke istrinya," cetusnya.
Sebuah pernyataan yang memantik darah mendidih, sejak kapan tarif hilangnya nyawa seorang tahanan di dalam pengawasan kepolisian dihargai setara harga ponsel kelas menengah? Apakah uang lima juta itu murni uang duka, atau justru uang pelicin agar keluarga korban mengunci mulut rapat-rapat?
KESAKSIAN MENGERIKAN DARI LIANG KUBUR
Sekujur Tubuh Lebam Membiru!
Skenario busuk "mati karena sakit jantung atau paru-paru" yang diembuskan pihak internal langsung rontok dan hancur berkeping-keping begitu tim investigasi menelusuri lingkungan tempat tinggal almarhum Irul. Jeritan kemarahan warga dan tetangga pecah, menepis mentah-mentah dongeng medis fiktif bikinan oknum Polda Jatim tersebut.
"Sakit jantung? Sakit paru-paru? Itu bohong besar! Karangan orang-orang seragam itu keterlaluan!" sergah Suratman (51), salah satu tokoh warga setempat yang ikut mengurus jenazah korban dengan napas memburu menahan murka.
Suratman, dengan mata yang menyala penuh amarah, membeberkan fakta mengerikan yang disaksikan langsung oleh mata kepala warga saat kain kafan korban dibuka.
"Kami yang memandikan jenazahnya dengan mata kepala sendiri melihat jelas, Mas! Tidak ada itu tanda-tanda orang mati sakit normal. Hampir sekujur tubuh Irul penuh dengan luka lebam kebiruan! Mulai dari punggung, dada, sampai bagian belakangnya gosong membiru seperti habis dihantam benda tumpul secara sadis! Kalau memang sakit, apa ada penyakit medis yang bisa bikin tubuh manusia lebam-lebam seperti habis disiksa begitu?!"
Ibu-ibu di sekitar rumah korban pun tak kalah geram. Ratna (42), tetangga sebelah rumah almarhum, berteriak histeris menuntut keadilan. "Irul itu di sini sehat walafiat, tidak pernah punya riwayat sakit kronis seperti yang mereka tuduhkan! Mereka pikir dengan melempar uang lima juta rupiah ke istrinya, dosa dan kebiadaban di dalam penjara itu bisa diputihkan begitu saja? Kami warga kecil memang miskin, tapi kami tidak tolol untuk dibohongi dengan cerita sekonyol ini!"
Hingga laporan ini diturunkan, misteri kematian Choirul Anam alias Irul masih menjadi noktah hitam yang mencoreng wajah penegakan hukum di Jawa Timur. Drama melarikan diri si "orang dalam" berinisial D, aksi blokade petugas Ditreskoba, serta penyerahan uang lima juta rupiah yang mencurigakan, kian mempertegas indikasi adanya kejahatan sistemik yang sedang ditutupi di bawah karpet Polda Jatim. Publik kini menunggu dengan geram, apakah Kapolda Jatim memiliki keberanian untuk menyeret oknum-oknum "penjagal" di dalam selnya ke hadapan hukum, ataukah nyawa Irul akan selamanya terkubur bersama sejuta kebohongan birokrasi yang memuakkan?
Banaspati Watch melalui kordinator Liputan Jawa Timur akan terus mengawal kasus ini, dan dalam waktu dekat akan mengirimkan pertanyaan konfirmasi secara tertulis tanpa kompromi pada Kabid Humas Polda Jatim, sekaligus membuat laporan resmi dugaan pelanggaran HAM berat dan penganiayaan tahanan ke Divisi Propam Mabes Polri dengan melampirkan serta mengamankan bukti-bukti berupa foto maupun video sebelum "dimusnahkan" terkait kondisi terakhir jenazah sesaat sebelum dimakamkan.
(Wied)

