Advertisement
Oleh : Tri Widayanto
Kordinator Liputan Jawa Timur
Banaspatiwatch.co.id
Selamat untuk warga Surabaya! Kini Anda tidak perlu lagi merogoh kocek dalam-dalam untuk membeli tiket pesawat ke Italia demi menikmati suasana kota air. Lewat kerja keras sistem drainase yang mogok masal, hujan deras belakangan ini sukses menyulap jalan-jalan protokol di jantung Kota Pahlawan menjadi wahana air gratis bertajuk "Venesia Kearifan Lokal".
Bedanya, kalau di Italia Anda naik gondola romantis, di Surabaya Anda disuguhi atraksi estetik ratusan motor mogok yang didorong berjamaah di tengah kepungan air bah.
KEAJAIBAN SAINS KOTA
Anggaran Menguap, Airnya Tetap Tinggal
Melihat teknis penanganan banjir di lapangan akhir-akhir ini memang membutuhkan tingkat kesabaran setara dewa. Responsnya begitu lambat, carut-marut, dan tampak kehilangan arah, seolah-olah banjir di pusat kota ini adalah fenomena alam mistis yang baru pertama kali terjadi di bumi. Padahal, jika menengok isi dompet Pemkot Surabaya, angka-angkanya sungguh bikin melongo dan siap membuat kota lain minder setengah mati.
*Tanpa tanggung-tanggung, Pemkot Surabaya menggelontorkan anggaran pengendalian banjir fantastis sebesar Rp 1,3 triliun hingga Rp 1,4 triliun untuk tahun anggaran 2025.
*Memasuki tahun 2026, plot dana penanganan genangan kembali dipatok di angka raksasa, yakni Rp1,1 triliun.
Jika ditotal secara akumulatif, dana penanganan air bah ini dengan gagah berani menembus angka Rp2,4 triliun—sebuah nominal yang seharusnya bisa dipakai untuk menyulap gorong-gorong kota menjadi jalan tol bawah tanah bebas hambatan.
Pansus Banjir DPRD Surabaya bahkan sempat mendesak agar 3% hingga 5% dari total APBD Surabaya yang mencapai Rp12,3 triliun dikunci rapat-rapat khusus untuk urusan air.
Ironisnya, ketika anggaran triliunan itu sukses mengalir lancar dari kas daerah, air hujan di pusat kota justru mampet dan ogah mengalir ke mana-mana. Warga pun mulai bertanya-tanya dengan nada jenaka, apakah anggaran triliunan tersebut ikut hanyut bersama genangan, ataukah skema teknis drainasenya memang didesain menggunakan metode kuno "biarkan air mencari jalannya sendiri"?
LAYAR KACA TIBA TIBA SUNYI
Ke Mana Perginya Para Sutradara Konten?
Di balik tingginya genangan air yang merendam pusat kota, ada satu misteri besar yang belum terpecahkan, yaitu surutnya konten media sosial sang penguasa kota. Akun resmi milik Walikota dan Wakil Walikota Surabaya tiba-tiba dilanda musim kemarau konten. Layar gawai warga yang biasanya riuh dengan video pendek beresolusi tinggi, mendadak sunyi senyap bak kota mati.
Pemandangan ini sungguh kontras dan bikin rindu jika dibandingkan dengan masa-masa sebelum banjir datang menghantui. Saat cuaca cerah ceria, algoritma media sosial warga Surabaya tanpa henti dibombardir oleh aksi-aksi heroik penuh sinematografi tingkat tinggi, antara lain:
*Drama Amarah Estetik:
Aksi marah-marah ikonik di depan kamera saat menegur kinerja jajaran dinas yang dianggap lelet.
*Irama Kemanusiaan:
Video kunjungan kerja ke gang-gang sempit kampung padat penduduk lengkap dengan musik latar yang menyayat hati.
*Sidak Berbalut Bedak:
Konten interaksi super hangat demi menjaga kedekatan visual yang paripurna dengan para warga.
Namun begitu air naik setinggi lutut di jalur utama kota, sinyal produksi konten tampaknya langsung kehilangan sinyal akibat terendam banjir. Sungguh ajaib, tidak ada satu pun konten video kemanusiaan atau aksi marah-marah heroik di bawah guyuran hujan badai yang tayang di beranda. Penanganan teknis yang lambat dibiarkan berjalan sunyi tanpa sorotan lampu kamera, menyisakan warga kota yang harus berjuang sendirian menembus genangan demi menyelamatkan mesin kendaraan mereka. Tampaknya, aksi meluapnya air belum mendapatkan jadwal syuting resmi dari tim kreatif Balai Kota.
Kini, masyarakat hanya dapat menanti kapankah urgensi penanganan teknis ini masuk ke dalam agenda prioritas estetika digital pemerintah kota. Kita menanti momen di mana banjir tidak lagi dianggap sebagai anomali cuaca yang sunyi, melainkan sebuah panggung teatrikal yang siap didokumentasikan dengan kurasi visual yang sempurna. Sebelum lensa kamera kembali menyorot heroisme birokrasi di bawah rintik hujan, warga kota tampaknya harus mandiri menembus genangan serta berjuang tanpa narasi, tanpa publisitas, dan tanpa solusi yang pasti.

