Advertisement
Oleh : Tri Widayanto
Kordinator Liputan Jawa Timur
Banaspatiwatch.co.id||Surabaya-- Ketika rakyat jelata di akar rumput masih sibuk bertaruh nasib melawan harga beras dan jebakan juru parkir liar yang lebih galak dari preman, dua penguasa tertinggi Kota Pahlawan justru punya arena "balapan" baru yang jauh lebih transendental. Selamat datang di kompetisi paling aduhai tahun 2026!
Di sudut merah, kita punya Wali Kota Eri Cahyadi. Dan di sudut biru kita tampilkan Sekretaris Kota (Sekkota) Lilik Arijanto. Dua-duanya adalah "petinju legendaris" dari rahim yang sama, yaitu mantan penguasa Dinas Cipta Karya (DPRKPP)—sebuah dinas yang oleh lidah-lidah nakal netizen sering dijuluki sebagai salah satu oase paling "basah" dan subur di lingkup Pemkot Surabaya.
Publik Surabaya kini dipaksa menjadi komentator balapan spiritual yang sangat bombastis ini. Bagaimana tidak geli sekaligus geram? Dua kursi paling determinan di Balai Kota mendadak kosong melompong secara bersamaan. Kota metropolitan ini dibiarkan berjalan dengan mode auto-pilot di bawah kendali Pelaksana Tugas (Plt). Sementara para elitenya? Sedang asyik healing spiritual, terbang tanpa antre menggunakan fasilitas Visa Mujamalah, menginap di hotel bintang 5 ring 1 Masjidil Haram, dan berlindung di balik ademnya tenda AC VVIP beralas kasur tebal di Mina.
Kalkulasi matematis dari "perlombaan iman" rombongan ini tidak main-main, diprediksi menembus angka fantastis Rp 1,7 Miliar hingga Rp 2,04 Miliar per orang! Humas Pemkot boleh saja pasang badan mengklaim ini hasil tabungan pribadi dan celengan subuh, tapi publik tentu punya kalkulatornya sendiri untuk menebak dari mana "keajaiban matematika" sisa-sisa jabatan itu berasal.
MENGINTIP RAPOR BALAPAN
Siapa diantara mereka yang paling unggul?
Jika ini adalah sebuah kompetisi resmi, mari kita bedah performa kedua kontestan berdasarkan indikator yang bisa membuat dada warga Surabaya terasa makin sesak dan ngos-ngosan.
SEKTOR FINANSIAL ROMANTIS
Siapa yang gerbong keluarganya paling banyak di cangking ikut menikmati fasilitas hotel ring 1? Makin panjang gerbongnya, makin tebal pula "celengan subuh" yang harus dipecahkan ke lantai.
ADU KUAT TAMENG HUMAS
Kontestan mana yang narasi pembelaannya paling estetik dan syahdu di media sosial dinas, demi meredam kecurigaan publik terkait intervensi sponsor korporasi atau keajaiban dana gaib.
AKSI TINGGAL GELANGGANG
Siapa yang paling sukses meninggalkan warisan proyek mangkrak paling spektakuler sebelum melenggang pergi dengan baju ihram ke tanah suci.
SKOR SEMENTARA
APBD Menangis Darah, Beton Mangkrak Jadi Pemenang Nyata!
Sementara kedua petinggi khusyuk memburu predikat mabrur di bawah langit Makkah, potret infrastruktur di bumi Surabaya justru menangis darah dan hancur lebur. Pemenang asli dari balapan ini tampaknya bukan Eri maupun Lilik, melainkan Mega proyek Lapangan Tembak Internasional Kedung Cowek senilai Rp 78 Miliar yang kini sukses bertransformasi menjadi monumen kegagalan terbaik abad ini. Proyek ambisius di tengah tambak itu telantar tanpa kejelasan, disusul oleh bangunan SMP Negeri di Tambak Wedi, Puskesmas Manukan Kulon, serta proyek jalan Lingkar Luar Barat (JLLB) dan Lingkar Luar Timur (JLLT) yang semuanya kompak jalan di tempat. Dan sebagai juara terbuncit adalah berbagai pemberian dana hibah ke berbagai instansi vertikal, Polrestabes dan Kejaksaan Negeri Surabaya.
Sungguh ironis tingkat dewa, uang puluhan miliar rakyat tertanam kokoh jadi beton mati dan dana hibah ke instansi vertikal, pelayanan publik berjalan lambat tanpa komandan, sementara pejabatnya sibuk memeras keringat di jalur VVIP demi predikat haji plus-plus.
INTEL INTIP LHKPN, CELENGAN SIAPA YANG PALING TEBAL?
Biar tidak dikira fitnah, mari kita buka-bukaan data Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) resmi mereka yang tercatat di KPK. Mari kita lihat apakah isi kantong mereka "masuk akal" untuk membiayai tiket Furoda yang harganya setara dengan harga satu unit rumah tidak bersubsidi tersebut.
DI SUDUT MERAH
Eri Cahyadi (Wali Kota)
Berdasarkan laporan LHKPN periodik terbarunya, Wali Kota idola kita ini tercatat memiliki total harta kekayaan bersih sebesar Rp 6,38 Miliar (setelah dipotong utang jumbo sebesar Rp 2,47 Miliar). Harta ini didominasi oleh 4 aset tanah dan bangunan senilai Rp 5,07 Miliar. Wah, kalau dipakai berangkat Haji Furoda sekeluarga, isi celengan Mas Wali langsung menyusut drastis. Sungguh sebuah pengorbanan finansial yang sangat agung!
DI SUDUT BIRU
Lilik Arijanto (Sekda)
Sang mantan Kepala Dinas DPRKPP yang baru naik kasta jadi Sekda ini ternyata tidak kalah bersinar. Dalam laporan LHKPN periodiknya, ia tercatat mengantongi total harta kekayaan sebesar Rp 5,24 Miliar yang mayoritasnya berupa kepemilikan tanah dan bangunan hasil sendiri di Surabaya. Dengan kekayaan "se-minimalis" itu untuk ukuran pejabat teras metropolitan, keputusan memecahkan tabungan miliaran rupiah demi jalur VVIP tentu adalah bentuk keimanan yang luar biasa berani.
BEDAH RASIO DATA
Apa Yang Bisa Dibeli?
Jika akumulasi dana Haji VVIP Furoda kedua pejabat beserta rombongannya tersebut ditaksir mencapai ~Rp 4 Miliar, mari kita konversikan dana premium tersebut ke dalam satuan unit infrastruktur taktis penanganan genangan riil di lapangan.
Dana "ketukan pintu langit" tersebut ternyata setara dengan:
1/16 Proyek Rumah Pompa Utama, mendekati pendanaan megaproyek strategis lokal seperti pembangunan rumah pompa Medokan Semampir yang totalnya butuh Rp 65 Miliar untuk mengeringkan 4 kelurahan.
Jika rata-rata pembuatan atau pembersihan saluran air (culvert) skala perkampungan padat membutuhkan biaya taktis Rp 100 juta per gang, dana haji premium tersebut mampu membereskan masalah genangan di 40 kampung Surabaya sekaligus.
RIBUAN METER KUBIK NORMALISASI SEDIMEN
Setara dengan biaya operasional penuh alat berat ekskavator milik Dinas PU untuk mengeruk ribuan kubik lumpur penyumbat di sepanjang saluran JLLT atau JLLB yang saat ini masih setia mangkrak.
GARIS FINISH MENANTI PEMBUKTIAN AUTENTIK VS RADAR KOMISI ANTIRASUAH
Taruhan moral dari kompetisi prestise kemewahan iman ini akan mencapai garis finis saat mereka menginjakkan kaki kembali di Balai Kota Surabaya yang kini sunyi senyap. Warga Surabaya tidak sedang amnesia walau tiap hari terpapar polusi, dan mereka sudah siap menagih pembuktian di dunia nyata.
Kita tunggu saja bersama, siapa pemenang sejati dari lomba haji premium ini. Apakah mereka akan pulang membawa berkah autentik untuk kemaslahatan rakyat jelata yang kebanjiran, atau justru kepulangan mereka kelak meninggalkan jejak pemeriksaan yang panjang di kantor komisi antirasuah (KPK) akibat matematika kekayaan yang mendadak tidak masuk akal?
Satu hal yang pasti, publik Kota Pahlawan sudah sangat mahir dan khatam menilai seberapa "basah" dan aduhainya menjadi penguasa di atas penderitaan warganya sendiri. Selamat beribadah, Pak Pejabat! Jangan lupa doakan drainase Surabaya dari atas kasur empuk di Mina!

