Advertisement
Banaspatiwatch.co.id||SURABAYA-- Badai politik hebat kini tengah menghantam internal DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya. Semburan janji manis yang pernah diucapkan Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, kini berbalik menjadi bumerang yang siap mengoyak soliditas partai berlambang banteng moncong putih tersebut.
Istilah 'ngedabrus'—sebuah sarkasme khas Suroboyoan untuk menyebut bualan kosong—kini di beberapa media santer dialamatkan kepada sang orang nomor satu di Surabaya.
Gelombang protes dan aduan dari pihak-pihak yang merasa dikhianati dilaporkan terus mengalir deras, tidak hanya menggedor pintu kantor DPC di Surabaya, melainkan sudah menembus level DPD Jawa Timur hingga ke episentrum kekuasaan tertinggi di DPP PDIP Jakarta.
Mereka menagih satu hal, yaitu kehormatan sebuah janji politik.
TRAGEDI RUMAH MAKAN MAHAMERU
Motor Fantasi dan Beban Warisan
Akar dari kegaduhan ini disebut-sebut bermula dari sebuah pertemuan krusial di Rumah Makan Mahameru. Di hadapan jajaran KSB (Ketua, Sekretaris, Bendahara) PAC serta Ketua Ranting se-Surabaya, Eri Cahyadi melontarkan komitmen yang membakar semangat kader.
Pertama, Eri secara terbuka menyatakan siap mengambil alih dan melunasi seluruh tanggungan finansial mendiang Adi Sutarwijono, mantan Ketua DPC PDIP Surabaya yang kala itu telah dibebastugaskan oleh DPP PDI PERJUANGAN.
Kedua, demi memompa mesin partai, sebuah janji bombastis diikrarkan, yaitu hadiah sepeda motor bagi setiap ranting yang berhasil menyapu bersih kemenangan dalam Pilkada.
Namun, realita berbicara lain. Pilkada usai, kemenangan diraih di hampir seluruh wilayah, tetapi garasi para kader tetap kosong.
“Janji tinggal janji! Sampai detik ini, tidak ada satu pun roda dua yang menampakkan bodi fisiknya. Semua yang diucapkan di Mahameru itu menguap begitu saja,” bisik seorang sumber internal dengan nada geram dan kecewa mendalam.
SKANDAL UTANG Rp 1,2 M
Aroma Amis 'Barter' Proyek Pemkot
Di balik kekecewaan para kader akar rumput, sebuah bom waktu finansial berdaya ledak tinggi justru siap meledak. Dua nama mencuat ke permukaan sebagai korban dari lingkaran utang-piutang mendiang mantan ketua partai.
Solekan, yang mengaku telah menggelontorkan dana segar secara bertahap hingga menyentuh angka fantastis Rp680 juta untuk mendiang Adi Sutarwijono.
Happy, korban lain yang harus gigit jari setelah kehilangan uang sebesar Rp520 juta. Lebih mencengangkan lagi, skandal ini terindikasi kuat menyeret nama institusi pemerintahan. Alih-alih murni utang-piutang personal, aliran dana ratusan juta dari Happy diduga kuat dibumbui dengan kompensasi 'barter' berupa jatah proyek-proyek basah di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Ketika proyek yang dijanjikan terbukti zonk dan sang ketua telah tiada, Eri Cahyadi yang sebelumnya pasang badan menyatakan siap membantu pelunasan, kini dituding balik badan.
Surat-surat tuntutan dan desakan pelunasan kini telah dilayangkan secara resmi ke struktur tertinggi partai. Kehadiran para korban yang terus menagih hak mereka membuat markas banteng Surabaya kini tak ubahnya seperti kantor penagihan utang.
NAMA BESAR PARTAI DIPERTARUHKAN
DPP Didesak Segera Turun Tangan!
Melihat situasi yang kian liar dan berpotensi menjadi bola salju yang menghancurkan reputasi partai menjelang konstelasi politik ke depan, tokoh-tokoh senior partai mulai kehilangan kesabaran. Ketua Promeg’96 Surabaya, Wardoyo SH, angkat bicara dengan nada sangat keras dan provokatif.
“Ini bukan lagi sekadar masalah personal, ini sudah menyangkut marwah dan nama besar PDI Perjuangan! DPP PDIP tidak boleh diam atau pura-pura buta. Panggil Armuji yang saat ini sebagai KETUA DPC PDI-P Surabaya, panggil sekalian Eri Cahyadi sekarang juga!” tegas Wardoyo dengan nada tinggi saat diwawancarai oleh media.
Wardoyo memperingatkan dengan tajam agar para elite tidak menganggap enteng sumpah dan janji yang diucapkan di forum resmi partai. Jika dibiarkan berlarut-larut, opini publik akan terbentuk bahwa ada pihak-pihak tertentu yang sengaja memelihara konflik ini demi keuntungan pribadi.
“Jangan biarkan publik berspekulasi liar. Kalau terus-menerus dibiarkan tanpa ada penyelesaian konkret, jangan salahkan jika kepercayaan kader di akar rumput hancur lebur, dan masyarakat akan menilai pemimpin mereka hanya bisa ngedabrus!” pungkas Wardoyo mengakhiri kecamannya.
Kini, bola panas berada di tangan Eri Cahyadi dan jajaran petinggi PDIP. Akankah ada langkah konkret untuk membersihkan nama baik partai, ataukah skandal Mahameru ini akan benar-benar menjadi titik awal runtuhnya mitos kesaktian sang Wali Kota di mata rakyat Surabaya? Publik kini menunggu pembuktian.
(Wied)

