Advertisement
Banaspatiwatch.co.id||SURABAYA-- Menginjak pedal gas reformasi birokrasi, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi kembali melakukan perombakan gerbong pemerintahan secara besar-besaran. Hari ini, suasana khidmat menyelimuti Gedung Balai Kota Surabaya. Di bawah tatapan tajam dan sumpah jabatan yang sakral, sebanyak 57 pejabat eselon dari berbagai lini strategis resmi bergeser posisi.
Mutasi masif ini bukan sekadar rutinitas administratif di atas kertas. Gerakan ini adalah alarm keras bagi seluruh jajaran aparatur sipil negara (ASN) di bawah komando Eri Cahyadi. Seakan sang Wali Kota mengirimkan pesan lugas yang tak lagi bisa ditoleransi, Surabaya menanti karyamu, bukan retorikamu..!
PENYEGARAN TOTAL DI LINI STRATEGIS
Berdasarkan data lampiran pelantikan, pergeseran ini menyentuh posisi-posisi krusial yang bersentuhan langsung dengan pelayanan publik dan pembangunan kota. Beberapa nama besar tercatat menduduki pos baru yang penuh tantangan, diantaranya adalah:
Achmad Zaini, S.Sos, M.Si kini dipercaya mengomandoi posisi Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat.
Muhamad Fikser, AP, MM digeser untuk memimpin Dinas Lingkungan Hidup, sebuah pos basah yang menuntut komando cepat terhadap kebersihan dan estetika kota.
Herry Purwadi, S.Sn menakhodai Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga serta Pariwisata.
dr. Arif Setiawan, M.Kes memimpin RSUD Bhakti Dharma Husada guna memperkuat benteng pelayanan kesehatan warga.
Trio Wahyu Bowo, Amd.LLAJ. SE, MM didapuk sebagai Kepala Dinas Perhubungan untuk mengurai benang kusut transportasi kota.
Tidak hanya di tingkat dinas, penyegaran juga menyasar wilayah teritorial. Sejumlah Camat baru resmi dilantik, mulai dari Camat Bubutan ( H. Hajar Sulistyono ), Dukuh Pakis (Febriadhitya Prajatara), Camat Gubeng (Annita Hapsari Oktorina Sesoria), Camat Tandes (Eko Kurniawan Purnomo), hingga wilayah Lakarsantri, dan Sambikerep.
ERA BARU KERJA NYATA TANPA BATAS
Langkah berani Eri Cahyadi ini menegaskan bahwa Kota Pahlawan tidak kekurangan orang pintar, melainkan membutuhkan eksekutor lapangan yang tangguh. Reformasi birokrasi ini sengaja didesain untuk meruntuhkan dinding-dinding sekat birokrasi yang kaku.
Dalam prosesi pelantikan yang berlangsung penuh khidmat tersebut, tersirat sebuah tuntutan zaman yang tak bisa ditawar. Kota sebesar Surabaya, dengan kompleksitas masalah urban yang dinamis, tidak lagi membutuhkan laporan-laporan indah di balik meja atau sekadar untaian kalimat retorika tanpa dampak nyata bagi isi dompet dan kesejahteraan masyarakat bawah.
Melalui mutasi 57 pejabat ini, Pemkot Surabaya sedang membangun fondasi baru yang berbasis output dan outcome. Setiap pejabat yang dilantik hari ini memegang tiket babak baru,yaitu berinovasi melahirkan karya nyata atau siap-siap tergilas oleh evaluasi yang berjalan tanpa kompromi. Publik kini menunggu, sejauh mana gerbong baru ini mampu menerjemahkan visi besar Surabaya menjadi realitas di lapangan.
(Wied)

