Iklan

Sabtu, 20 Juni 2026, 20.6.26 WIB
Last Updated 2026-06-20T04:46:01Z
-UTAMABERITA TERKINIBERITA-UTAMAHUKUMPEMERINTAHREGIONAL

Gemerlap Fiktif Surabaya: Saat Hiburan Rakyat Surabaya Kembali Dibayar Air Mata Kemacetan!

Advertisement




 OPINI

Oleh: Tri Widayanto 

Kordinator Liputan Jawa Timur 


Banaspatiwatch.co.id||SURABAYA-- Di bawah gemerlap lampu pedestrian yang estetik dan deretan piala Adipura Kencana yang dipajang rapi layaknya piala turnamen game online di Balai Kota, Kota Pahlawan tampaknya sedang mengidap penyakit modern yang sangat menggelitik yaitu delusi prioritas akut stadium akhir.


KERJASAMA ATAU TERSANDERA PEMBERITAAN?


Di bawah sorot lampu festival fashion yang digelar megah Minggu besok, (21 Juni 2026), Surabaya kembali mencoba menampilkan wajah terbaiknya. Namun di balik layar, acara ini tidak lebih dari sekadar kosmetik untuk menutup riak pemborosan anggaran yang kian nyata. Pemerintah Kota Surabaya besok akan tampil begitu jemawa, berdiri kokoh di balik benteng perlindungan mediia besar ternama. Ketika jurnalisme beralih fungsi menjadi pelindung kebijakan, otokritik pun mati, dan pemborosan anggaran bertopeng kerjasama dalam festival mode ini sukses melenggang tanpa koreksi.


Di saat dompet rakyat jelata di akar rumput sudah megap-megap mirip ikan kekurangan oksigen akibat himpitan ekonomi, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya justru makin hobi menggelar "teatrikal" kemewahan kosmetik. Sebuah selebrasi yang sangat miskin substansi, namun luar biasa kaya dalam urusan membakar Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).


Belum juga publik sembuh dari trauma "neraka dunia" akibat kemacetan total parade Surabaya Vaganza Mei lalu, ego kekuasaan kini kembali bersiap menghentak aspal Jalan Tunjungan. Melalui gelaran Surabaya Fashion Festival (SFF) 2026 pada Minggu, 21 Juni 2026, Pemkot siap menyulap jalanan menjadi panggung catwalk.


Pertanyaannya sangat sederhana, apakah gelaran ini bisa digoreng untuk mengenyangkan perut rakyat, atau sekadar memuaskan syahwat panggung politik sang penguasa agar terlihat aman dari pemberitaan beberapa kasus yang mendera? Atau agar terlihat trendy dan aesthetic di FYP TikTok dan Reels Instagram?


HURA-HURA ANGGARAN DI TENGAH DEFISIT EMPATI 


Sungguh sebuah ironi yang dikemas secara jenaka namun sebetulnya menyayat hati. Saat pos anggaran perbaikan infrastruktur kampung pinggiran harus diketatkan sampai kering, dengan skema kontrak payungnya, Pemkot malah dengan ringannya menggelontorkan dana miliaran demi model yang melenggang beberapa menit dengan tatapan kosong. 


Manfaat ekonominya? Menguap secepat bensin eceran begitu lampu dekorasi dimatikan.

Lucunya, drama bedak kosmetik ini terjadi di tengah badai isu lokal yang jauh lebih seksi, menyengat, dan berbau amis. Sebut saja teka-teki aliran dana hibah Al-Ibrohimi yang sidangnya sedang memanas di PN Surabaya—sebuah opera sabun korporasi anggaran yang setingkat lebih seru daripada drakor terbaru.


Belum lagi aroma tak sedap dari pasar tumpah Banyu Urip dan Petemon Barat, di mana isu "upeti" darah ayam berbalut bisnis berdarah memaksa Asisten I Muhammad Fikser menggelar rapat darurat demi menyapu bersih bangunan liar.


Hebatnya, Pemkot tampak begitu garang, perkasa, dan tanpa ampun melakukan penertiban PKL kecil di satu tempat, namun mendadak amnesia, impoten, dan pura-pura buta di tempat lain. Sungguh sebuah standar ganda yang sangat mengocok perut.


TAMBAHAN MENU

Proyek Mangkrak dan Janji Manis Pengurai Macet


Kalau Anda pikir penderitaan warga Surabaya cuma sampai di situ, Anda kurang piknik ke pinggiran kota. Di saat model-model bersiap melenggang elegan di Jalan Tunjungan, warga di kawasan Benowo, Lakarsantri, hingga Sukolilo justru sedang asyik bermain wahana "wisata air dadakan" alias banjir akibat proyek saluran air (box culvert) yang pengerjaannya lebih lambat daripada siput yang sedang magang.


Sungguh sebuah sinkronisasi yang luar biasa, di pusat kota sibuk pamer baju, di pinggiran kota sibuk jemur kasur kebanjiran.

Jangan lupakan juga proyek transportasi publik yang katanya revolusioner. Bus Suroboyo dan Trans Semanggi yang digadang-gadang jadi penyelamat kemacetan, kini justru sering terlihat melenggang sepi di jalanan, sementara warga tetap memilih macet-macetan pakai motor pribadi karena rute busnya sedemikian misterius layaknya jodoh. Alih-alih membenahi integrasi transportasi massal agar warga tidak tua di jalan, Pemkot justru menutup jalan protokol demi sebuah acara fesyen. Jenius!


FORMULA INSTAN

Menciptakan "Neraka" Jalanan


Masyarakat Surabaya besok tampaknya harus kembali mengelus dada (atau mengelus knalpot) dan menyiapkan stok kesabaran tanpa batas. Penutupan jalur berlapis mulai dari Siola, Jalan Tunjungan, hingga Balai Pemuda adalah formula instan paling sahih untuk melumpuhkan urat nadi transportasi kota.

Mari kita hitung dengan logika santai, 

berapa liter bahan bakar yang terbakar percuma dalam antrean kendaraan yang mengular dari Embong Malang sampai ke lubuk hati terdalam?


Berapa banyak umpatan suci dari para pengemudi ojek online dan pekerja harian yang rute ekonominya diputus total demi ego sekelompok model berkaki jenjang?

Kreativitas memang mahal, tapi mengorbankan mobilitas publik demi sebuah konten estetik adalah lelucon yang sama sekali tidak lucu, bahkan untuk ukuran pelawak tunggal terbaik sekalipun.


SENGKARUT DAMPAK 

Saat Substansi Kalah oleh Lensa Kamera


Dampak destruktif dari kecanduan "pesta pora" kosmetik ini merembet ke segala lini kehidupan kota dengan sangat elegan dan tragis, antara lain:


Matinya Ekonomi Sektor Informal menyangkut gerai korporasi besar mendapat panggung megah berkarpet merah, sedangkan pedagang rombong kecil diusir jauh-jauh demi estetika lensa kamera fotografer serabutan.


Polusi Udara yang Ugal-ugalan: 

Kemacetan parah melonjakkan emisi gas buang secara brutal. Warga dipaksa menghirup polusi udara karbon monoksida yang dibalut dengan wewangian parfum festival mahal.


Erosi Karakter "Kota Pahlawan": 

Identitas Surabaya yang terkenal dengan heroisme, tetesan keringat, dan perjuangan kelas pekerja perlahan bergeser menjadi kota yang centil, superfisial, elitis, dan penakut pada realita dengan mengesampingkan kearifan lokal. Terpinggirkannya puluhan budaya tradisional oleh festival-festival tak bermoral dan tak bermutu!


MENOLAK LUPA DAN MENOLAK DIAM


Sudah saatnya warga Surabaya bangun dari pingsan masal dan tidak terus-menerus disuapi "angin surga" berupa gemerlap lampu malam hari dan senyuman protokoler pejabat yang sudah dipoles sedemikian rupa.

Uang yang dihambur-hamburkan untuk acara berdurasi beberapa jam itu adalah uang pajak dari tetesan keringat dan darah Anda, bukan uang saku pribadi dari pimpinan kota. Mengapa anggaran jumbo itu tidak dipakai untuk mengurai sengkarut dana hibah, mempercepat proyek box culvert anti-banjir, atau membenahi pasar tradisional yang kondisinya sudah mirip lokasi syuting film horor?


Jika Pemkot Surabaya tetap keras kepala melanjutkan hobi hura-hura anggaran ini tanpa evaluasi total, jangan salahkan masyarakat jika melabeli rezim hari ini sebagai "Rezim Kosmetik Penuh Omon-Omon".


Sebuah rezim yang sangat mahir, lihai, dan bersertifikat dalam mempercantik wajah kota di depan kamera, tetapi membiarkan perut rakyatnya keroncongan dan motornya mogok kebanjiran di balik layar.