Iklan

Selasa, 26 Mei 2026, 26.5.26 WIB
Last Updated 2026-05-26T07:14:51Z
-UTAMABERITA TERKINIBERITA-UTAMAHUKUMPEMERINTAHPOLRIREGIONALWARGA LAPOR

SENGKARUT PAKUWON CITY JILID 2: Hak Jawab atau Panggung 'Srimulat' Keluarga Korban?

Advertisement
Keterangan gambar : LMJ, ibu kandung G


Banaspatiwatch.co.id||SURABAYA-- Alih-alih meluruskan benang kusut, rilis hak jawab (25/5/26) tanpa kehadiran G daF isterinya selaku korban, disampaikan LJM, ibu kandung dari G—korban dugaan pengeroyokan di kawasan elite Pakuwon City—justru sukses membuat publik mengernyitkan dahi. 


Narasi yang awalnya dibangun sebagai tragedi "premanisme internasional" yang menyayat hati, kini perlahan bergeser menjadi tontonan drama komedi akibat rentetan kesaksian pihak keluarga yang saling tabrak dan membingungkan.

" Saya tidak pernah memberikan sepeserpun uang kepada satpam, itu narasi yang sengaja mereka buat," ujar LJM mengawali sesi wawancara dengan sejumlah awak media.


'KOMANDO' WARGA ASING DAN MISTERI 4 TEMAN YANG DIAM TAPI MEMUKUL


Dalam keterangan terbarunya, LJM bersikeras bahwa sang menantu, F, terluka parah bukan karena ditarik oleh oknum satpam berinisial A berompi hijau. "Saya akan berikan bukti, F sudah terluka sebelum jatuh," tegasnya berapi-api. 

Sayangnya, ketegasan itu mendadak menguap. Saat didesak awak media mengenai apa atau siapa sebenarnya yang menyebabkan wajah F bersimbah darah jika bukan karena tarikan satpam, LJM sejenak terdiam. 


SEBUAH ' CLIFHANGER' YANG APIK, NAMUN BURUK BAGI AKURASI INFORMASI 


Ketidakkonsistenan berlanjut saat LJM mendeskripsikan jalannya pengeroyokan. Di satu kalimat, ia menyebut bahwa pelaku S memberikan komando kepada empat rekannya untuk menghajar G. Namun, di kalimat berikutnya, LJM justru meralat dengan mengatakan, "Ke-4 temannya hanya diam menyaksikan, tidak ada satu katapun."


Pembaca tentu mulai pusing: jika keempat teman pelaku hanya diam menonton seperti sedang menikmati bioskop gratis, lalu siapa sebenarnya komplotan yang merangsek dan menghajar G secara membabi buta di bawah komando S?


PEGAWAI YANG MEMBANTU, DAN SATPAM YANG BINGUNG


Kekonyolan alur cerita ini semakin lengkap dengan kemunculan tokoh baru bernama Disor, yang disebut sebagai pegawai korban. Menurut LJM, Disor pahlawan yang ikut memukul pelaku nomor 4 ( dalam video yang beredar di medsos, red ) hingga sang pelaku bangkit sambil memegangi kepala.


Menariknya, aksi baku hantam balik oleh pihak korban inilah yang kemudian dilerai oleh Satpam A. Jika kronologinya demikian, maka narasi awal yang menyebut bahwa pengamanan internal Pakuwon City "lumpuh dan membiarkan pengeroyokan" menjadi bias.

Satpam rupanya bekerja melerai, walaupun di lapangan awak media menemukan lambannya langkah antisipatif dari pihak keamanan.


BARANG BUKTI BATU YANG DIAMBIL 'ASAL-ASALAN'


Puncak dari segala komedi kesaksian ini adalah soal "batu" yang diduga digunakan pelaku untuk memukul korban. LJM mengklaim mendapatkan info penggunaan batu ini dari seorang petugas satpam.

Namun, saat bergegas ke kantor polisi, LJM dengan ajaibnya mengambil batu di lokasi secara "asal ambil saja". 


Alasannya? Karena ia sendiri tidak tahu batu mana yang dipakai dan siapa pelaku yang melemparnya. Lebih menggelikan lagi, saat ditanya siapa nama satpam yang memberi tahu soal batu tersebut, LJM mendadak terserang amnesia sesaat. "Lupa yang mana satpamnya, karena saat itu banyak sekali petugas," ujarnya enteng.


Masyarakat kini disuguhi fakta hukum yang unik: sebuah batu acak yang dipungut sembarangan di jalanan Pakuwon City kini resmi naik kasta menjadi barang bukti formal di kepolisian.


PINTU MEDIASI YANG BERSYARAT MISTERIUS


Di akhir drama, LJM menyatakan masih membuka pintu mediasi bagi pelaku S. Namun, ia menambahkan bumbu penyedap bahwa S tetap harus memikul "konsekuensi" yang harus ditanggung. Konsekuensi apa? LJM lagi-lagi "emoh" merinci.


Sorotan publik kini tidak lagi sekadar tertuju pada "tontonan tinju" gratis itu, melainkan mengerucut pada dua institusi: lemahnya sistem pengamanan internal Pakuwon City, yang seharusnya ambil langkah antisipatif sebelum kejadian dan lambannya respons penegakan hukum oleh Polrestabes Surabaya.


Investigasi atas tragedi memuakkan ini menelanjangi ironi pahit, lemahnya system pengawasan keamanan kompleks perumahan elite Pakuwon City.


Dan publik kini hanya bisa mengurut dada. Kasus yang awalnya memicu empati nasional karena membawa-bawa isu kedaulatan hukum lokal di hadapan paspor asing, kini justru terjebak dalam labirin pernyataan keluarga korban yang berubah-ubah. Jika pihak keluarga sendiri bingung dengan kronologi pelaku, hingga barang buktinya sendiri, maka jangan salahkan jika publik mulai jengah dan menganggap kasus ini tak lebih dari sekadar riuh rendah tetangga elite yang salah urat.


(Wied)