Iklan

Jumat, 08 Mei 2026, 8.5.26 WIB
Last Updated 2026-05-08T03:37:03Z
-UTAMABERITA TERKINIBERITA-UTAMAPEMERINTAHREGIONALWARGA LAPOR

Monumen Kegagalan Rp 54 Miliar: Dari Mimpi Olimpiade Kini Berakhir Jadi Sebuah Rumah Sakit Tipe C

Advertisement


Banaspatiwatch.co.id
||Surabaya--Ambisi Pemerintah Kota Surabaya untuk memahat nama di peta olahraga dunia melalui Lapangan Tembak Internasional Kedung Cowek kini resmi berganti wajah. Proyek yang awalnya digadang-gadang menjadi mercusuar atlet menembak dunia itu, kini justru berakhir dalam meja evaluasi untuk dialihfungsikan menjadi fasilitas kesehatan permanen.

Penelusuran kronologis menunjukkan adanya jurang lebar antara janji manis di masa lalu dengan realitas pahit yang berdiri di atas lahan 3 hektare di Kecamatan Bulak tersebut.


ANGIN SURGA RISMA di Tahun 2019


Drama bermula pada 2019. Di bawah sorot kamera dan pengawalan elit jajaran dinas, Wali Kota saat itu, Tri Rismaharini, menebar optimisme tinggi. Dengan nada jemawa, ia memastikan fasilitas ini akan rampung dalam waktu singkat. "Insyaallah tahun ini kelar semuanya," ucapnya kala itu.

Publik disuguhi narasi megah: puluhan line menembak, fasilitas rooftop, hingga target menjadi tuan rumah kejuaraan dunia.

Namun, waktupun telah membuktikan bahwa rentetan sidak yang dilakukan hanya menjadi etalase tanpa penyelesaian yang nyata di lapangan.


ANGGARAN GEMUK,REALISASI MANDUL

Catatan anggaran menunjukkan betapa derasnya uang pajak warga Surabaya mengalir ke pesisir Kedung Cowek. 

Modal awal sebesar Rp 54 miliar hanyalah sebagai pembuka kebutuhan anggaran yang lain. Pada 2020, tambahan Rp 24 miliar kembali digelontorkan, ditambah lagi "dana integrasi" senilai Rp 4 miliar.

Secara akumulatif, lebih dari setengah triliun rupiah dipertaruhkan di sana. Namun, alih-alih menjadi ladang Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui sewa lapangan, struktur beton tersebut sempat lama membisu, hanya menjadi saksi bisu dari perencanaan yang disebut banyak pihak "tidak maksimal"—sebuah eufemisme untuk kegagalan manajemen proyek berskala besar.


PERGESERAN FUNGSI: Solusi atau Pelarian?

Memasuki Mei 2026, wajah proyek ini berubah total. Tidak ada lagi aroma mesiu atau riuh atlet, yang tersisa adalah rencana medis. DPRD Kota Surabaya kini mendorong pengalihan fungsi gedung ini menjadi Rumah Sakit (RS) Tipe C secara permanen.

Langkah ini diambil dengan dalih efisiensi anggaran dibandingkan harus membangun RS baru di wilayah selatan. 


Semenjak digunakan sebagai tempat isolasi darurat saat pandemi, fasilitas medis seperti instalasi oksigen memang masih tertinggal di sana. Pemerintah Kota tampak sedang berupaya keras "menyelamatkan muka" aset yang terbengkalai agar tidak sepenuhnya menjadi monumen mangkrak.


EFISIENSI DI TENGAH PUING AMBISI

Meskipun integrasi dengan Jalan Lingkar Luar Timur (JLLT) diprediksi akan meningkatkan aksesibilitas kawasan, publik tetap melayangkan kritik tajam terhadap inkonsistensi perencanaan sejak awal. 

Salah satunya dari organisasi kemasyarakatan Banaspati Majapahit.


"Walikota terdahulu dan Walikota sekarang harus bertanggung jawab atas kegagalan perencanaan pembangunan yang menelan dana puluhan miliar tersebut, dan kini harus dirombak (renovasi) demi menyesuaikan fungsinya sebagai rumah sakit," ujar Ketua DPD BANASPATI JAWA TIMUR, Bondan.


"Beri kami waktu untuk mendalami kasus tersebut, bila ada temuan indikasi korupsi kami tidak segan segan untuk audiensi, hingga melakukan aksi turun ke jalan dengan "pasukan" yg jumlahnya mencapai ribuan," sambung pria bertubuh gempal yang juga merupakan salah satu pendekar senior di perguruan silat PSHT tersebut.


"Gagalnya" perencanaan pembangunan lapangan tembak Kedung Cowek menjadi pelajaran mahal bahwa tanpa perencanaan yang presisi, ambisi internasional hanya akan berakhir menjadi beban anggaran yang berkepanjangan. Dan uang puluhan miliar yang awalnya diniatkan untuk prestasi olahraga, kini dipaksa "mengalah" menjadi fasilitas kesehatan akibat lemahnya akurasi perencanaan di masa lalu.

(Wied)