Advertisement
Banaspatiwatch.co.id ||SURABAYA___(6/5/26)Di bawah pendar lampu kristal Ruang Rapat Paripurna yang megah, sebuah lembaran baru sejarah legislatif Kota Pahlawan resmi digoreskan. H. Syaifudin Zuhri, S.Sos., berdiri dengan artikulasi yang tenang namun penuh wibawa saat mengikrarkan sumpah jabatan sebagai Ketua DPRD Kota Surabaya sisa masa jabatan 2024-2029.
Pelantikan ini bukanlah sekadar rotasi birokrasi yang kaku. Ini adalah sebuah estafet nurani; melanjutkan visi dan perjuangan mendiang Adi Sutarwijono yang telah berpulang. Bagi publik Surabaya, sosok yang karib disapa Kaji Ipuk ini hadir membawa optimisme baru untuk menahkodai aspirasi rakyat di tengah dinamika kota yang kian kompleks.
MANIFESTO SANG PRAJURIT IDEOLOGI
Lahir dan ditempa dari rahim perjuangan PDI Perjuangan, perjalanan Syaifudin menuju puncak kursi legislatif adalah potret kesetiaan seorang kader akar rumput. Dikenal sebagai "Prajurit Ideologi", rekam jejaknya panjang dalam membela hak-hak wong cilik. Baginya, politik bukanlah panggung untuk meraih takhta, melainkan instrumen untuk memanusiakan manusia melalui kebijakan.
"Jabatan ini adalah amanah yang berat namun mulia. Surabaya adalah kota para pejuang, dan di gedung inilah perjuangan itu harus kita artikulasikan dalam kebijakan nyata," ungkap Syaifudin dengan nada reflektif usai prosesi pelantikan.
MELAMPAUI INFRASTRUKTUR BETON
Memasuki sisa masa bakti yang krusial, sang nakhoda baru memberikan penekanan khusus pada harmonisasi. Ia menegaskan bahwa kemajuan Surabaya tidak boleh hanya diukur dari kemegahan fisik yang kasat mata, melainkan harus menyentuh sendi-sendi kehidupan masyarakat yang paling dalam.
Syaifudin mengajak seluruh anggota parlemen untuk menanggalkan ego sektoral demi kepentingan kolektif. "Kita tidak hanya sedang membangun infrastruktur beton; kita sedang membangun masa depan anak-anak kita. Kepentingan warga Surabaya harus berdiri tegak di atas segalanya," tegasnya penuh optimisme.
VISI KESEJAHTERAAN YANG INKLUSIF
Dengan pengalaman strategis di berbagai komisi, Syaifudin membawa visi kepemimpinan yang inklusif. Fokusnya tajam: memastikan anggaran daerah tetap berada pada rel keadilan sosial, mempercepat pengentasan kemiskinan, serta menjamin pembangunan yang merata hingga ke sudut-sudut kota yang tersembunyi.
Kini, palu sidang telah berada di tangannya. Surabaya menanti gerak cepat dan sentuhan humanis sang nakhoda. Sebuah babak baru dimulai, di mana integritas dan keberpihakan pada rakyat diharapkan menjadi napas utama dalam setiap produk hukum yang lahir dari rahim DPRD Kota Surabaya.
(Wied)

