Iklan

Kamis, 16 April 2026, 16.4.26 WIB
Last Updated 2026-04-16T10:23:42Z
-UTAMABERITA TERKINIBERITA-UTAMANASIONALOLAH RAGAREGIONALRELIGI

Keteduhan dari Madiun: Menjaga Marwah di Tengah Badai

Advertisement


Banaspatiwatch.co.id
|| Madiun-- Pagi di Kota Madiun berjalan seperti biasa. Matahari naik perlahan, menyapu halaman Padepokan Agung SH Terate Pusat Madiun yang berdiri tenang namun sarat sejarah. 


Dari luar, tak ada yang berubah. Namun di dalamnya, gelombang kabar dari Jakarta baru saja tiba—hasil Musyawarah Nasional IPSI yang menyita perhatian.


Di ruang pertemuan yang sederhana, Ketum SH Terate Pusat Madiun Kang Mas Moerdjoko HW duduk dengan sikap tenang.


Tak ada gestur panik, tak ada nada tergesa. Hanya tatapan yang dalam, seolah sudah memahami arah badai sebelum benar-benar datang.


Beberapa pengurus duduk mengelilinginya. Mereka menunggu, bukan sekadar arahan, tetapi juga ketegasan di tengah simpang siur yang mulai merembet ke akar rumput.


Diam yang Berisi: Diplomasi Tanpa Riuh


Kabar pengakuan dari Ikatan Pencak Silat Indonesia terhadap kepengurusan lain memang memicu kegelisahan.


Namun bagi Kang Mas Moerdjoko, kepemimpinan tidak ditentukan oleh legitimasi eksternal semata.


Ia berbicara perlahan, namun setiap kata terasa tegas.


"Persaudaraan tidak bisa dibatasi hanya oleh keputusan federasi. Kita menghormati IPSI sebagai rumah besar silat Indonesia, namun marwah organisasi tetap ada di tangan warga dan hasil Parapatan Luhur,"


Tidak ada ajakan konfrontasi. Tidak pula retorika keras. Ia memilih jalan yang berbeda—tenang, terukur, namun tetap kokoh.


Bagi Kang Mas Moerdjoko, riuh bukan solusi. Jalan hukum dan administratif menjadi pilihan. Di saat yang sama, roda organisasi harus tetap berjalan tanpa terganggu.


Mengalihkan Energi: Prestasi Jadi Jawaban


Di tengah isu yang berkembang, ia justru mengalihkan fokus organisasi. Bukan pada konflik, tetapi pada hal yang lebih substansial: prestasi.


Di padepokan, latihan tetap berlangsung. Pukulan, tendangan, dan jurus mengalir seperti biasa. Para pendekar muda tidak larut dalam polemik.


Kang Mas Moerdjoko percaya, jawaban terbaik bukan berasal dari perdebatan, tetapi dari karya nyata.


Ia menekankan satu prinsip sederhana: organisasi akan dihargai dari kontribusinya, bukan dari klaim yang diperdebatkan.


Menjaga Akar: Turun ke Bawah


Yang paling ia khawatirkan justru bukan di tingkat pusat, melainkan di bawah—ranting dan cabang.

Di situlah potensi kebingungan muncul.


Karena itu, instruksi langsung diberikan. Pengurus diminta turun, menjelaskan, dan menjaga soliditas. Bahwa arah organisasi tetap jelas.


Bahwa pusat tetap berdiri di Madiun.

Langkah ini bukan sekadar strategi organisasi, tetapi juga bentuk tanggung jawab moral.


Di mata warga, Kang Mas Moerdjoko bukan hanya pemimpin administratif. Ia adalah penjaga nilai.


Keteguhan di Tengah Angin


Siang mulai mendekat. Cahaya matahari kini terang menyinari pendopo.


Kang Mas Moerdjoko berdiri sejenak, menatap halaman luas di depannya.


Tak ada kegelisahan di wajahnya. Hanya keyakinan yang diam.

Ia tahu, waktu akan menjawab.


Bahwa keputusan bisa berubah, arah bisa bergeser, tetapi nilai yang dijaga dengan tulus akan tetap bertahan.


Perlahan, ia menutup percakapan dengan kalimat yang tak sekadar kata, melainkan keyakinan yang hidup:


"Selama matahari masih bersinar, selama bumi masih dihuni manusia, selama itu pula Persaudaraan Setia Hati Terate tetap kekal Jaya Abadi selama-lamanya,"


Di Madiun, badai mungkin datang. Namun keteduhan tetap dijaga.(red)