Advertisement
Banaspatiwatch.co.id||MADIUN--Sabtu, 5 September 2026___Persoalan Bu Tamirah, seorang perempuan lanjut usia yang masih bertahan hidup melalui usaha sembako di Kelurahan Krajan, Kabupaten Madiun, kembali menjadi sorotan.
Setelah sebelumnya akses di sekitar rumah dan usaha Bu Tamirah menjadi persoalan, kini muncul pemasangan besi secara permanen di lokasi yang selama ini digunakan sebagai akses keluar-masuk.
Tidak hanya persoalan akses. Dagangan sembako milik Bu Tamirah kini juga tidak terlihat sama sekali dari luar karena tertutup. Kondisi tersebut tentu berdampak terhadap keberlangsungan usaha kecil yang menjadi sumber penghidupannya.
Lebih memprihatinkan lagi, listrik di rumah Bu Tamirah telah diputus. Kondisi ini semakin memperberat kehidupan seorang perempuan lanjut usia yang masih berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya melalui usaha sembako.
Sebelumnya, usaha sembako Bu Tamirah juga sempat tertutup oleh mobil ambulans. Ketika hal tersebut dipersoalkan oleh tetangga karena dinilai tidak pantas, persoalan kemudian berkembang hingga muncul pemasangan besi permanen.
Di tengah masyarakat juga muncul isu bahwa persoalan tersebut bukan semata-mata berkaitan dengan kepentingan masjid, melainkan diduga terdapat kepentingan lain, termasuk persaingan usaha yang kemudian dibungkus dengan kepentingan agama.
Namun, Banaspati Watch menegaskan bahwa informasi mengenai dugaan tersebut masih memerlukan klarifikasi dan pembuktian dari pihak-pihak terkait.
BENARKAH MURNI PERSOALAN MASJID?
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: benarkah seluruh tindakan tersebut murni demi kepentingan masjid, atau terdapat kepentingan lain di baliknya?
Sebab, ketika yang terdampak adalah seorang perempuan lanjut usia yang masih berusaha mencari nafkah melalui warung sembako, persoalan tersebut tidak bisa hanya dilihat dari sisi kepentingan fisik maupun batas akses.
Ada sisi kemanusiaan yang juga harus diperhatikan.
Jika akses usaha tertutup, dagangan tidak terlihat, dan listrik rumah sampai terputus, maka kondisi tersebut patut menjadi perhatian pemerintah serta seluruh pihak yang terlibat.
Masjid semestinya menjadi tempat menghadirkan keteduhan, kepedulian dan keadilan. Jangan sampai tindakan yang dilakukan atas nama kepentingan masjid justru menimbulkan kesan di tengah masyarakat bahwa simbol agama digunakan untuk menekan warga yang berada dalam posisi lemah.
DI MANA PEMERINTAH KELURAHAN?
Persoalan ini juga menimbulkan pertanyaan terhadap Pemerintah Kelurahan Krajan.
Ketika persoalan warga sudah menyangkut akses rumah, keberlangsungan usaha, listrik dan konflik antarwarga, pemerintah kelurahan seharusnya hadir sebagai mediator untuk mencari jalan keluar yang adil dan manusiawi.
Bukan membiarkan persoalan berlarut-larut hingga berpotensi menjadi konflik yang lebih besar.
Banaspati Watch tidak sedang menghakimi siapa pun. Kami hanya mempertanyakan fakta dan meminta seluruh pihak memberikan penjelasan secara terbuka.
Apabila memang pemasangan besi tersebut memiliki dasar dan merupakan bagian dari kepentingan masjid, masyarakat berhak mengetahui dasar serta alasan yang melatarbelakanginya.
Begitu pula apabila terdapat persoalan lain di balik konflik tersebut, sebaiknya disampaikan secara terbuka agar tidak berkembang menjadi prasangka di tengah masyarakat.
Agama jangan kehilangan kemanusiaan. Kepentingan jangan menghilangkan keadilan. Dan jangan sampai seorang perempuan lanjut usia yang hanya ingin bertahan hidup dari usaha kecilnya justru menjadi korban dari sebuah persoalan yang tidak kunjung selesai.
Banaspati Watch membuka ruang hak jawab kepada Takmir Masjid Baitus Sholihin, Pemerintah Kelurahan Krajan, maupun pihak lain yang berkepentingan untuk memberikan klarifikasi dan penjelasan berdasarkan fakta.
BANASPATI WATCH
Mengawal Fakta, Membela Keadilan.
Redaksi

