Advertisement
Banaspatiwatch.co.id||Surabaya-- Kondisi Kota Metropolitan Surabaya sempat dilingkupi ketegangan massal saat ribuan pendekar yang tergabung dalam Komunitas Arus Bawah Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Jawa Timur tumpah ke jalan-jalan protokol. Agenda awal yang dirancang sebagai aksi damai di depan Mapolrestabes Surabaya untuk menuntut keadilan atas pembacokan dua anggotanya oleh oknum penagih utang, mendadak berubah menjadi aksi pengepungan mencekam di kawasan jalan Teuku Umar.
Investigasi langsung tim awak media Banaspati Watch di lapangan merekam detik-detik krusial peralihan tensi massa hingga berujung pada insiden bentrokan fisik dengan aparat keamanan.
Berikut adalah laporan investigasi mendalam mengenai kronologi dan awal mula meletusnya pengepungan sarang debt collector tersebut.
EUFORIA BERUBAH SIAGA
Pemicu di Jalan Diponegoro
Aksi solidaritas ini awalnya berjalan sangat kondusif. Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Luthfi, secara langsung memberikan sambutan di hadapan ribuan massa "Semut Ireng". Pihak kepolisian memberikan jaminan tegas berupa komitmen hukum bahwa para pelaku premanisme pembacokan akan diusut tuntas dan diproses tanpa tebang pilih. Mendengar jaminan dari orang nomor satu di Polrestabes Surabaya tersebut, massa membubarkan diri secara tertib.
Namun, petaka dimulai saat rombongan bergerak pulang dalam sebuah pawai euforia kemenangan moral. Tim investigasi Banaspati Watch saat itu melekat di dalam rombongan, hanya berjarak sekitar 30 meter dari garis depan massa yang melintas di Jalan Diponegoro. Saat rombongan sedang berkonvoi, beberapa peserta di baris depan mendadak menghentikan laju kendaraan. Mereka saling memberi kabar darurat, sembari menunjukkan sebuah gambar dari sebuah medsos bahwa segerombolan kelompok debt collector terdeteksi sedang berada di teras base camp mereka secara terang-terangan.
Seketika, atmosfer kedamaian runtuh. Terbakar oleh solidaritas dan insting menjaga kehormatan organisasi, barisan depan massa langsung berputar arah secara masif. Rombongan besar yang tadinya mengarah pulang berbelok tajam menuju Jalan Teuku Umar untuk memburu gerombolan debt collector tersebut.
BARIKADE 3 SSK TNI-POLRI
Kehadiran ribuan pesilat di Jalan Teuku Umar ternyata telah diantisipasi oleh intelijen keamanan. Sebelum massa berhasil menyentuh gerbang pangkalan debt collector, pergerakan mereka langsung dihadang oleh tembok hidup dari satuan keamanan kepolisian. Tidak main-main, mengantisipasi eskalasi yang tak terkendali, aparat diperkuat dengan tambahan 3 Satuan Setingkat Kompi (SSK) pasukan elite gabungan dari unsur Marinir TNI AL dan TNI AD.
Massa yang terlanjur emosional karena merasa ruang geraknya dihadang untuk mencari keadilan langsung berhadapan head-to-head dengan barikade petugas. Gesekan keras tak terhindarkan. Kekecewaan mendalam karena gagal mengepung target utama memicu letupan anarki di lini depan.
Hujan batu, kayu, dan botol mulai beterbangan membelah udara Jalan Teuku Umar. Akibat dari benturan fisik yang berlangsung sengit tersebut, 3 orang aparat keamanan yang terdiri dari unsur TNI dan Polri mengalami luka bocor di bagian kepala dan wajah akibat hantaman lemparan batu. Barikade petugas sempat terdesak namun tetap kokoh menahan gempuran demi menghindari jatuhnya korban dari warga sipil sekitar.
PENYELAMATAN TANPA REPRESIF
Surabaya Kembali Kondusif
Meskipun situasi sempat memanas dan diwarnai darah dari aparat yang terluka, kedewasaan taktis jajaran komando keamanan patut diacungi jempol. Menjelang petang, kendali situasi berhasil diambil alih secara persuasif.
Tepat pukul 17.55 WIB, melalui negosiasi yang alot dan imbauan yang tegas dari para korlap serta pimpinan aparat di lapangan, seluruh peserta aksi akhirnya bersedia memundurkan diri secara teratur. Pihak TNI dan Polri berhasil meredam amuk massa tanpa harus mengeluarkan tindakan represif yang dapat memicu pertumpahan darah lebih luas.
Pasca-mundurnya massa, suasana metropolitan Surabaya secara umum dipastikan kembali aman dan kondusif. Namun, peristiwa di Jalan Teuku Umar ini menjadi sinyal keras bagi pemangku kebijakan hukum di Jawa Timur, bahwa arus bawah tidak akan tinggal diam jika praktik premanisme berkedok debt collector dibiarkan tumbuh subur di Kota Pahlawan.
( Wied / An)


