Iklan

Senin, 31 Agustus 2026, 31.8.26 WIB
Last Updated 2026-08-31T03:07:38Z
-UTAMABERITA TERKINIBERITA-UTAMAHUKUMPEMERINTAHREGIONALTIPS & TRICK

DRAMA KOLOSAL DI ATAS DEFI-SIT: Saat "Megaphone" Wali Kota Lebih Nyaring Ketimbang Tarikan Pajak Kakap!

Advertisement


 

Oleh : Tri Widayanto ( Wiwied )

Kordinator Liputan Jawa Timur 

Banaspati Watch 


Sungguh sebuah tontonan teatrikal yang paripurna! Jagat Surabaya belakangan ini dihiasi oleh sinematografi politik kelas wahid, sang Wali Kota, Eri Cahyadi, turun ke jalan dengan gagah berani, menenteng megaphone (toa) bak pahlawan kesiangan yang siap menyelamatkan bumi dari cengkeraman... tukang parkir liar dan penjual gorengan!


Gebrakan "rajin sidak" ke arena Car Free Day (CFD) hingga trotoar jalanan ini sukses membius layar kaca, memamerkan ketegasan setebal baja demi "ketertiban kota". Namun, begitu kamera kita geser sedikit ke arah Gedung DPRD Kota Surabaya yang sedang membara karena pembahasan RAPBD-P 2026, barulah kita sadar, bahwa panggung megah ini ternyata berdiri di atas jurang defisit yang menganga lebar!


AMUKAN ANGKA

Belanja Sultan, Pendapatan Pas-pasan


Mari kita bedah lelucon finansial ini dengan data resmi LKPD Pemerintah Kota Surabaya. Saat ini, ruang sidang paripurna bergolak hebat lantaran proyeksi belanja daerah membengkak hingga Rp12,925 triliun, sementara proyeksi pendapatan hanya mampu merangkak di angka Rp11,13 triliun.

Silakan hitung sendiri menggunakan kalkulator warung terdekat, di situ ada defisit fiskal menakutkan sebesar Rp1,795 triliun yang siap mencekik leher kota ini!


Sungguh sebuah tata kelola keuangan tingkat dewa, di mana belanja daerah didesain melompat tinggi bagai atlet olimpiade, sementara realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) hingga triwulan II baru menyentuh angka mengenaskan, 44,97 persen!


Lalu, apa solusi instan birokrasi? Menekan rakyat kecil? Menertibkan jukir tepi jalan umum yang recehnya tak seberapa?


HORORRp1,86 TRILIUN 

Macan Ompong di Hadapan "Gajah" Pajak


Di sinilah letak cacat logika terbesar dalam sejarah tata kelola Kota Pahlawan. Energi publik dan aparatur Pemkot Surabaya habis terkuras dalam drama kolosal penertiban mikro yang disorot kamera. 

Sementara itu, raksasa piutang pajak daerah senilai Rp1.861.990.865.475 (Rp1,86 triliun lebih) dibiarkan tidur nyenyak, mengendap manis, dan bahkan naik 2,45% dari tahun sebelumnya!


Mari kita urai "sedekah paksa" Pemkot Surabaya kepada para wajib pajak kelas atas ini.


Pajak Bumi dan Bangunan (PBB): 

Rp1,772 Triliun (Angka magis yang cukup untuk menutup seluruh defisit anggaran Surabaya 2026!)


Pajak Reklame: 

 Rp57,02 Miliar

Pajak Hotel: 

 Rp20,22 Miliar

Pajak Restoran: 

 Rp11,37 Miliar


Luar biasa! Ketegasan Pemkot Surabaya rupanya memiliki sensor otomatis. Sangat garang saat membentak PKL beromzet ratusan ribu rupiah, namun mendadak bisu, tuli, dan amnesia ketika berhadapan dengan piutang PBB miliaran rupiah milik korporasi kakap dan pemilik gedung-gedung pencakar langit. 

Megaphone Wali Kota yang begitu nyaring di Taman Bungkul mendadak kehabisan baterai saat dibawa ke depan pintu kantor wajib pajak bernilai besar!


SYSTEM YANG "MATI SURI" 

Dan Kontrak Kerja di Atas Kertas


Rakyat Surabaya dipaksa menyaksikan ironi tak berujung. Kontrak kinerja ditandatangani, kerja sama dengan aparat penegak hukum dirayakan dengan foto bersama secara formalitas, tetapi realisasi penagihan aktifnya berjalan secepat siput lumpuh.


Jika target penerimaan pajak tahun ini dipatok Rp7,307 triliun, maka mencairkan piutang Rp1,86 triliun adalah kunci darurat untuk menyelamatkan kota dari kebangkrutan fiskal. 

Tapi mengapa birokrasi lebih memilih hobi "berantem" dengan rakyat kecil di trotoar ketimbang mengejar para konglomerat pengemplang pajak? 

Apakah karena gajah di pelupuk mata terlalu besar untuk ditangkap, sehingga semut di seberang lautan lebih menarik untuk digilas demi konten media sosial?


Ukurannya sederhana, Cak Eri! 

Kehebatan seorang pemimpin tidak dihitung dari berapa kali penertiban dramatis Anda masuk fyp (for your page) TikTok atau Instagram. Ukuran keberhasilan Anda adalah ketika mesin birokrasi yang Anda pimpin punya nyali untuk menarik kembali hak keuangan daerah yang mengendap triliunan rupiah di kantong para borjuis!


Selama piutang Rp1,86 triliun itu tetap menjadi hiasan laporan keuangan, maka sidak-sidak Anda tak lebih dari sekadar gimmick panggung sandiwara di tengah kota yang sedang meradang sekarat akibat defisit anggaran!