Advertisement
Banaspatiwatch.co.id||Surabaya-- Semboyan "Surabaya Kota Pahlawan yang Aman dan Kondusif" tampaknya harus sedikit bergeser memberikan ruang bagi drama baru di bidang finansial mandiri. Gedung DPRD Kota Surabaya di Jalan Yos Sudarso Rabu (29/7/26) mendadak berubah menjadi arena curhat massal. Komisi B DPRD Kota Surabaya terpaksa menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) demi memediasi sengketa "Arisan Meow" yang alirannya macet total hingga merugikan pesertanya miliaran rupiah.
Arisan yang mengusung nama lucu khas suara kucing ini ternyata tidak selucu nasib para anggotanya. Alih-alih mendapatkan keuntungan melimpah dari skema menggiurkan yang dijanjikan, puluhan member justru harus gigit jari sambil meratapi aset mereka yang telanjur melayang.
JANJI MANIS KEUNTUNGAN 10 PERSEN dan SERTIFIKAT yang TERGADAI
Suasana ruang rapat Komisi B mendadak tegang bin alot saat perwakilan korban mulai membeberkan kronologi bagaimana mereka bisa terhipnotis oleh pesona finansial Arisan Meow. Salah satu member dengan nilai investasi paling fantastis, Chester J. Chaniago, menuntut kejelasan nasib uang pribadinya sebesar Rp2,08 miliar.
Chester mengaku mulai tergiur sejak awal tahun 2025 akibat ajakan manis dari seorang teman. Sistem yang ditawarkan memang sangat ramah di telinga antara lain skema flat, pencairan cair setiap 10 hari, ditambah imbal hasil (return) yang mencapai 10 persen.
Karena telanjur percaya, jangankan mengecek legalitas di Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menanyakan alamat kantornya saja mungkin lupa.
"Kalau dikomunikasikan selalu berbelit-belit. Tidak ada jawaban yang signifikan, bahkan saya merasa seolah fakta dibalikkan," keluh salah satu korban dengan nada gusar di hadapan para wakil rakyat.
Bahkan yang lebih ironis, demi mengejar bunga tinggi yang belum pasti itu, ada sebagian peserta yang nekat menggadaikan aset berharga. Mereka rela menyekolahkan sertifikat rumah ke bank demi menyetor uang muka arisan hingga Rp500 juta. Sebuah bentuk keberanian finansial tingkat dewa yang berakhir dengan status zonk.
PEMBELAAN SANG OWNER
"Saya Tidak Kabur, Tapi Member Lain yang Lari"
Di sudut lain, sang owner sekaligus penanggung jawab Arisan Meow, Mourin Chienci Lintong, duduk dengan pembelaan yang tidak kalah menarik. Mourin secara tegas membantah tudingan miring bahwa dirinya telah membawa lari uang milik para anggotanya.
Menurut analisis internal manajemennya, macetnya perputaran dana murni disebabkan oleh kelakuan para member itu sendiri. Dari total sekitar 200 anggota, banyak sekali oknum peserta nakal yang langsung hilang bak ditelan bumi setelah nama mereka keluar dan menerima pencairan dana besar.
"Kami tetap punya kesanggupan membayar, tapi dicicil sesuai kemampuan. Masalahnya, banyak member yang lari setelah terima uang, jadi perputaran dana terhambat. Kalau tidak ada dana masuk, saya tidak bisa langsung mengembalikan semuanya," kilah Mourin membela diri.
Sebuah skema klasik yang jamak ditemui, giliran belum dapat rajin menagih, giliran sudah dapat langsung lupa ingatan dan pura-pura amnesia untuk membayar iuran bulanan.
DEWAN KETOK PALU DAMAI
Tabulasi Ulang Data dari pada Masuk Penjara
Mendengar perdebatan yang terus berputar-putar seperti komidi putar, anggota Komisi B DPRD Surabaya, Budi Leksono, akhirnya mengambil jalan tengah. Pihak dewan meminta kedua belah pihak menurunkan tensi urat leher dan mengedepankan iktikad baik penyelesaian secara kekeluargaan.
DPRD Surabaya khawatir jika kasus ini langsung digelandang ke ranah hukum pidana dan laporan polisinya menumpuk, dana miliaran milik masyarakat tersebut justru akan menguap sepenuhnya tanpa sisa.
"Harapan kami ada iktikad baik. Kalau semua langsung masuk ke proses hukum, justru penyelesaiannya akan semakin sulit. Yang paling penting sekarang adalah duduk bersama, melakukan cross-check data, menghitung hak dan kewajiban masing-masing, kemudian mencari titik temu," tegas Ketua Fraksi PDI P tersebut dengan bijak.
Hasil hearing pun menyepakati agar kedua belah pihak segera melakukan pencocokan atau tabulasi ulang data keuangan secara transparan. Opsi pengembalian dana dengan sistem cicilan bertahap dari sisa perputaran kas akhirnya menjadi satu-satunya napas buatan bagi para korban yang berharap uang mereka bisa pulang kampung.
Di akhir sesi, politisi yang akrab disapa Cak Buleks ini tak lupa menyentil masyarakat Kota Pahlawan agar tidak mudah terbuai oleh program kaya mendadak lewat arisan menurun atau investasi berkedok bisnis sejenis. Logika sederhana harus tetap dipakai, jika keuntungan yang dijanjikan jauh melampaui bunga bank resmi, kemungkinan besar Anda sedang mengantre untuk menjadi korban RDP berikutnya di Jalan Yos Sudarso.
(Wied)

