Advertisement
Banaspatiwatch.co.id||SIDOARJO-- Pukul 15.00 WIB biasanya menjadi puncak keramaian di arena sabung ayam raksasa Candi, Sidoarjo. Ratusan motor terparkir rapi di sekitar lahan milik pengusaha kakap Mujiadi alias Bos Rokok Mempreng (57), sementara perputaran uang taruhan terus memanas di balik kedok "kontes ketangkasan". Ironisnya, meski warga berulang kali melaporkan keresahan mereka ke pihak berwajib, penertiban lapangan dinilai publik hanya sebatas formalitas.
Saat petugas Polsek Candi melakukan pengecekan sore hari, arena tersebut mendadak sepi tanpa barang bukti tersisa, menyisakan tanda tanya besar bagi warga lokal yang menyaksikan sendiri aktivitas haram tersebut tetap melenggang bebas di hari-hari biasa.
DRAMA BAKAR-BAKAR POLSEK HANYA KAMUFLASE BUAT MEDIA
Aksi "penggerebekan cepat" dan seremoni pembongkaran serta bakar-bakar terpal di lokasi oleh jajaran Polsek Candi beberapa waktu lalu kini tercium bau amisnya. Operasi itu diduga kuat hanyalah kamuflase murahan untuk meredam kritik media dan sekadar melakukan Public Relations (PR) demi menyelamatkan muka institusi.
Kenyataannya, itu adalah pekerjaan rumah (PR) yang tidak pernah diselesaikan secara tuntas!
Alih-alih memburu sang bandar besar, korps berseragam cokelat di Sidoarjo justru membangun "tembok pembungkam massal" setelah jajaran pejabat kepolisian setempat kompak melakukan gerakan bungkam digital.
Saat dihubungi jurnalis untuk dimintai pertanggungjawaban terkait eksisnya kembali arena judi ini, Kapolsek Candi Kompol Septiawan Adi Prihartono, S.I.K., M.A., memilih menunjukkan sikap antikritik yang memuakkan dengan langsung memblokir nomor WhatsApp wartawan secara sepihak. Sikap membelakangi publik ini setali tiga uang dengan jajajarannya. Kanitreskrim Polsek Candi AKP Imam Tarmudji D., S.H., serta pucuk pimpinan tertinggi Polres Sidoarjo, Kapolres Kombes Pol. Dr. Christian Tobing, S.H., S.I.K., M.H., M.Si., juga memilih menutup mata dan telinga.
Mereka kompak diam seribu bahasa, membiarkan pertanyaan publik menggantung dalam ketidakpastian yang sarat tanda tanya besar. Berapa tebal "uang rokok" yang masuk ke kantong oknum?
SURGA MAKSIAT YANG SEMPURNA
Sarang Cap Ji Kie dan Barikade 'Billy Guard'
Penelusuran mendalam di sekitar lokasi mengungkap bahwa tempat ini bukan sekadar arena adu ayam. Di bawah kepakan sayap ayam taruhan, berputar pula gurita perjudian jenis lain seperti judi Tcap Ji Kie (Cap Ji Kie), dadu, dan berbagai jenis perjudian terorganisir lainnya yang beroperasi serentak tanpa tersentuh hukum.
Sistem pertahanan arena judi ini luar biasa rapi.
Manajemen pengamanan swasta bersandi "BILLY GUARD" dikerahkan untuk menjaga ketat akses masuk, dibantu jaringan informan bayaran (spion) yang disebar dalam radius satu kilometer untuk memantau pergerakan orang asing maupun kendaraan dinas aparat.
Seorang warga lokal berinisial R (45) mengungkapkan kesaksiannya secara anonim dengan nada geram bercampur ngeri.
"Ramai sekali, Mas. Puluhan motor dan mobil mewah pelat luar kota masuk sejak pagi. Taruhannya tidak pakai uang receh lagi, tapi gepokan uang merah di dalam tas. Ada judi sabung ayam, ada juga putaran Cap Ji Kie di dalam. Kami warga sini sebenarnya resah, tapi tidak ada yang berani bersuara. Salah sedikit, urusannya bisa panjang dengan orang-orang berbadan tegap di depan itu," ujarnya.
Terkait patroli aparat, pria berambut gondrong itu tertawa sinis, "Kalaupun ada penggerebekan atau bakar-bakar tenda kapan hari, itu cuma sandiwara siang bolong! Sebelum polisi datang, arena sudah kosong bersih karena informasi selalu bocor. Begitu polisi pulang membawa foto untuk laporan ke media, ya orang-orangnya main lagi. Hukum di sini seperti sudah dibeli pakai uang rokok."
WAKIL BUPATI MIMIK IDAYANA IMPOTEN?
Gencar Razia Miras, Ciut di Depan Bandar Judi
Ironi terbesar Sidoarjo hari ini juga mengarah langsung ke kursi eksekutif. Publik dibuat jengkel melihat tingkah laku Wakil Bupati Sidoarjo, Hj. Mimik Idayana. Wanita yang akrab disapa Mak Mimik ini begitu gencar mencitrakan diri di media sosial dengan melakukan inspeksi mendadak (sidak) dan operasi pembersihan toko minuman keras (miras) serta kafe karaoke demi mewujudkan visinya: "Sidoarjo Bebas Maksiat".
Namun, di mana taring Mak Mimik saat dihadapkan pada mega-perjudian beromzet miliaran rupiah di Candi? Mengapa sang Wakil Bupati mendadak impoten, buta, dan tuli ketika arena judi milik bos rokok Mempreng ini berdiri dengan sangat gagah menantang pemerintah daerah? Apakah nyali politiknya ciut seketika di hadapan sang konglomerat rokok kelas kakap?
Narasi "Sidoarjo Bersih" yang digemborkan pemerintah daerah tak lebih dari sekadar bualan kosmetik politik belaka selama lingkaran hitam pengusaha Mempreng ini dibiarkan tumbuh subur menjajah moral warga Kota Delta.
MENANTI NYALI KAPOLDA JATIM
Runtuhkan Benteng Konglomerat, Sapu Bersih Backing!
Gurita bisnis pengusaha rokok M tampaknya telah berhasil membangun "negara kecil" yang kebal hukum di wilayah Sidoarjo. Perputaran uang yang masif diduga telah berhasil menjinakkan otoritas keamanan tingkat lokal, membuat jalannya penegakan hukum mandul total.
Ketika Kapolres Sidoarjo Kombes Pol Christian Tobing dan Kapolsek Candi Kompol Septiawan Adi Prihartono dinilai publik telah sukses dijadikan "pajangan" tak berdaya oleh lingkaran hitam pengusaha M, maka intervensi tegas berupa pencopotan jabatan dan pengambilalihan kasus oleh Markas Besar Polda Jatim menjadi satu-satunya harapan tersisa.
Masyarakat Jawa Timur kini menunggu dengan mata melotot! Apakah Kapolda Jatim dan Mak Mimik memiliki keberanian dan nyali besar untuk menyapu bersih para backing judi ini dan membersihkan institusinya dari oknum pelindung maksiat, atau memilih membiarkan marwah institusi Polri di Sidoarjo mati total terkubur uang haram? Kita lihat saja!
(Wied)

