Advertisement
Banaspatiwatch.co.id||SURABAYA-- Lapak-lapak liar di Pasar Tumpah Banyu Urip tampaknya telah menjelma menjadi monumen peradaban baru yang tidak berwujud di bawah hukum tata ruang Kota Surabaya. Keberadaan mereka yang kian kokoh di sepanjang kawasan "Bhug Abang" membuktikan bahwa hukum gravitasi sosial—di mana yang kuat menyingkirkan pedestrian—jauh lebih sakti ketimbang tumpukan berkas hasil rapat koordinasi di Balai Kota.
Para pengguna jalan pun dipaksa menikmati simulasi ujian kesabaran tingkat dewa setiap pagi dan sore, terjebak di antara kepulan asap knalpot dan tumpukan sayur-mayur yang meluber indah hingga ke badan jalan.
KELURAHAN BAK KANTOR PEMAKAMAN
Hening Tanpa Tindakan, Pasca Rakorgab Di Balai Kota
Sementara itu, Kantor Kelurahan Banyu Urip yang jaraknya hanya selemparan batu dari pusat pusaran kemacetan ini, mendadak berubah fungsi menjadi zona meditasi spiritual paling tenang di Surabaya. Alih-alih menerjunkan personel Satpol PP untuk menegakkan muruah perda, pihak kelurahan justru memamerkan atraksi keheningan yang luar biasa. Sang Lurah, Dedy Ahmad Choiruddin, S.T., tampak sangat konsisten dalam mempraktikkan filosofi silent is golden, sebuah respons artistik yang sangat kontras dengan urat leher para pejabat Balai Kota yang hampir putus saat meneriakkan instruksi penertiban.
Publik pun mulai berspekulasi secara liar di tengah keputusasaan macet yang merayap. Muncul dugaan bahwa surat instruksi pemindahan pedagang ke pasar resmi PD Pasar Surya bukan lagi sekadar disimpan di lemari es kelurahan, melainkan sudah membeku bersama hilangnya inisiatif birokrasi lokal. Jika kelambanan ini adalah sebuah strategi untuk menguji batas akhir kewarasan warga Surabaya dalam menghadapi kemacetan, maka eksperimen sosial Kelurahan Banyu Urip bisa dibilang telah sukses besar.
Kini, masyarakat hanya bisa menebak-nebak, apakah penertiban baru akan dimulai setelah aspal Banyu Urip secara ajaib meluas dengan sendirinya, atau menunggu kopi di cangkir Pak Lurah benar-benar mengering menjadi fosil.
LURAH "TUAI PUJIAN" DARI WARGA
Menanggapi situasi ini, Abah Rochman (58), salah seorang tokoh masyarakat yang juga merupakan "alumni kehormatan" kemacetan Banyu Urip selama belasan tahun, akhirnya angkat bicara dengan nada penuh takzim.
"Kami warga sini sebenarnya sangat kagum dengan ketahanan mental Pak Lurah Dedy," ujar Abah Rochman sambil menatap nanar ke arah barisan motor yang terkunci rapat di depan lapak kangkung.
"Kemampuan beliau menjaga keheningan di tengah klakson yang bersahut-sahutan sejak ba'da subuh itu setingkat dewa. Kami bahkan curiga, Kantor Kelurahan Banyu Urip itu sebenarnya bukan kantor birokrasi, melainkan padepokan pencak silat aliran 'Senyap Tanpa Bayangan'. Jangankan menertibkan pasar, mengeluarkan surat sosialisasi saja tidak terdeteksi oleh radar warga," ledeknya sambil tersenyum kecut
Ia juga menambahkan teori konspirasi lokal yang mulai dipercayai oleh para pengguna jalan yang frustrasi. "Saya rasa, pedagang di Bhug Abang ini tidak pakai jimat pelindung dari dukun. Jimat paling ampuh mereka ya sikap diamnya kelurahan itu. Instruksi dari Balai Kota itu ibaratnya kopi tubruk hangat yang dikirim ke kelurahan, tapi oleh pihak sana malah dimasukkan ke freezer biar jadi es lilin. Segar dan beku. Kami hanya berdoa, semoga sebelum aspal jalan ini habis dimakan lapak, Pak Lurah sudah menyelesaikan "tapa brata"nya dan ingat kalau beliau digaji menggunakan uang pajak dari para pengendara yang tiap hari dan sampai lewat tua di jalan ini," pungkas lelaki yang juga ta'mir salah satu masjid di kawasan tersebut.
(Wied)

