Advertisement
Banaspatiwatch.co.id||SURABAYA-- Sebuah mahakarya sejarah baru saja diukir di bawah langit Surabaya. Di tengah kekhawatiran publik akan potensi kelangkaan daging pasca-pemindahan aktivitas penjagalan dari Pegirian ke Rumah Potong Hewan (RPH) yang baru di Tambak Osowilangun (TOW)Surabaya, jajaran Direksi RPH (PERSERODA) Surabaya justru berhasil membuktikan tajinya. Lewat orkestrasi manajemen tingkat dewa yang sangat akomodatif dan responsif, proses transisi raksasa ini berjalan mulus, adem, dan nyaris tanpa gejolak.
Pantauan langsung di lapangan menunjukkan bahwa roda ekonomi di Pasar Daging Arimbi—sebagai episentrum sekaligus sentra penjualan daging terbaik di Kota Pahlawan—tetap berputar kencang tanpa hambatan pasokan sedikit pun.
RPH BUKTIKAN KOMITMEN, JAWAB KERAGUAN LEWAT KERJA NYATA
Pernyataan tegas salah satu direksi RPH yang menargetkan operasional siap pindah per awal Juni bukan sekadar isapan jempol atau janji manis media sosial. Sejak libur panjang akhir Mei lalu, RPH langsung tancap gas. Tepat pada 1 Juni, persiapan logistik dan uji coba pemotongan sapi langsung digeber, disusul dengan pemotongan perdana secara resmi pada Selasa, 2 Juni.
Meskipun pada hari pertama volume pemotongan dimulai dari angka adaptif—yakni 6 ekor karena siklus musiman pasca-Iduladha dan banyaknya jagal yang mudik ke Madura—fasilitas modern di TOW sejatinya telah teruji tangguh sejak awal tahun.
"Kami ini penyedia jasa. RPH dan mitra jagal adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Tanpa jagal, kami tidak ada apa-apanya. Oleh karena itu, sejak awal kami selalu membuka pintu komunikasi dan bersikap sangat akomodatif terhadap setiap masukan," ujar H. Fajar Arifianto Isnugroho, S.Sos., M.Si..selaku Direktur Utama RPH (PERSERODA) Surabaya dalam sesi konfirmasi langsung di ruang kerjanya.
Keberhasilan merangkul 100% mitra jagal—baik sapi maupun kambing—untuk bermigrasi penuh dari Pegirian ke TOW merupakan bukti sahih dari diplomasi jempolan manajemen RPH. Isu-isu miring yang sempat mencuat di awal relokasi kini menguap, digantikan oleh ritme kerja baru yang kian solid. Para jagal kini sukses menyesuaikan waktu operasional dengan mulai memotong lebih awal sejak pukul 21.30 WIB, memastikan daging segar kelas satu sudah membanjiri lapak Pasar Arimbi tepat waktu pada pukul 03.00 hingga 05.00 pagi.
Kritik Elegan untuk Pemkot Surabaya: Kebijakan 'Top-Down' yang Kehilangan Sentuhan Realitas
Namun, di balik kegemilangan orkestrasi lapangan yang dipimpin oleh manajemen RPH, potret kontras justru diperlihatkan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Niat baik Pemkot dalam mengantisipasi jarak distribusi dengan menyediakan armada truk angkut daging gratis patut diapresiasi secara moral. Sayangnya, dalam tataran eksekusi, kebijakan ini terkesan digarap di atas meja kerja yang steril dari debu lapangan.
Hal ini menjadi tamparan halus namun telak bagi perencana kebijakan di Balai Kota, bahwa fasilitas gratis yang mewah sekalipun akan menjadi pajangan mubazir jika gagal memahami denyut nadi dan ritme fleksibilitas distribusi para pelaku usaha lokal.
Pemkot Surabaya tampak terjebak dalam romantisme formalitas birokrasi—menyediakan apa yang menurut anggaran "bagus", bukan apa yang menurut lapangan "butuh". Jika manajemen RPH mampu turun ke bawah dan berbicara dengan bahasa para jagal, Pemkot Surabaya tampaknya masih perlu belajar mendengarkan lebih jeli agar APBD yang dikucurkan tidak berakhir sebagai monumen operasional yang sia-sia.
FLUKTUASI HARGA DAGING
Murni Dinamika Pasar, Bukan Efek Relokasi
Masyarakat diimbau untuk tidak panik mengenai isu lonjakan harga akibat perpindahan lokasi RPH. Manajemen RPH menjamin bahwa pasokan setidaknya 70% dari total hasil potong tetap diprioritaskan untuk mengunci kestabilan Pasar Arimbi, sementara sisanya langsung didistribusikan ke wilayah penyangga lain seperti Wonokromo dan Pucang.
Adapun kenaikan harga daging yang terjadi saat ini—di mana daging kelas 1 menyentuh Rp135.000 (dari normal Rp125.000) dan kelas 2 berada di angka Rp120.000 (dari normal Rp110.000)—murni disebabkan oleh kelangkaan pasokan sapi hidup di tingkat peternak skala nasional pasca-Iduladha, dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan faktor jarak distribusi RPH yang baru.
Dengan manajemen RPH yang terus pasang badan mendampingi para jagal, warga Surabaya kini bisa bernapas lega. Sentra daging terbaik mereka tidak hanya selamat dari ancaman kelangkaan, tetapi kini berdiri di atas fondasi operasional yang jauh lebih modern dan higienis di TOW.
Pemkot Surabaya kini tinggal menyelesaikan pekerjaan rumahnya: menyelaraskan bantuan regulasi dan menyempurnakan fasilitas transportasi agar seirama dengan gerak cepat RPH.
(Wied)

