Advertisement
Banaspatiwatch.co.id||SURABAYA-- Misteri "kesaktian" imunitas Pasar Tumpah Banyu Urip (Bhug Abang) yang kebal terhadap rentetan surat instruksi Balai Kota Surabaya akhirnya menemui titik terang. Di balik sandiwara "lelaku bisu" dan meditasi birokrasi yang dipertontonkan Kelurahan Banyu Urip, terendus aroma busuk transaksi haram yang terstruktur, sistematis, dan masif.
Hasil investigasi lanjutan tim Banaspatiwatch.co.id menemukan bahwa keheningan Sang Lurah, Dedy Ahmad Choiruddin, S.T., yang konon menurut kabar burung masih kerabat dekatnya Eri Cahyadi Walikota Surabaya, bukanlah sebuah ketidaksengajaan filosofis. Sikap diam tersebut diduga kuat menjadi bagian dari skenario pengamanan "pundi-pundi emas hitam" yang dikeruk langsung dari keringat ratusan pedagang kaki lima.
DUGAAN PADA NURUL HUDA
Sang Sutradara Dan Kurir Setoran?
Berdasarkan kesaksian dan data yang dihimpun di lapangan, aliran dana pungli ini dikendalikan oleh aktor intelektual lokal. Petugas Pembangunan dan Ketertiban (Bangtib) Kelurahan Banyu Urip, Nurul Huda, disebut-sebut bertindak sebagai "jembatan emas" pengumpul upeti.
Nurul Huda ditengarai kuat menjadi operator utama yang menerima setoran tunai dari MS, sang pengelola bayangan sekaligus "bos besar" pemegang kendali lapak liar di kawasan Bhug Abang.
Alih-alih menegakkan Peraturan Daerah (Perda) ketertiban umum, oknum petugas Bangtib ini justru diduga mengemban misi khusus, yaitu mendistribusikan uang panas tersebut ke atas meja kerja Pak Lurah hingga merembes ke tingkat Camat.
Sirkulasi uang haram inilah yang diduga menjadi "jimat pelindung" sesungguhnya, sekaligus menjelaskan mengapa instruksi pembongkaran dari Balai Kota selalu membeku bak es lilin di lemari pendingin kelurahan.
MENGHITUNG OMZET HARAM "MS"
Puluhan Juta Menguap ke Kantong Pribadi
Praktik eksploitasi ruang publik ini berjalan rapi dengan memanfaatkan keputusasaan para pedagang. Setiap harinya, 346 pedagang di Pasar Tumpah Banyu Urip dipasung oleh tarif wajib.
Rp 3.000 hingga Rp 5.000 per hari, tergantung besar kecilnya ukuran lapak liar yang memakan badan jalan.
Rp 1.038.000 hingga Rp 1.730.000 per hari perputaran uang tunai di aspal jalanan.
Rp 31.140.000 hingga Rp 51.900.000 per bulan estimasi total pendapatan kotor yang dikeruk oleh MS.
Belum setoran 2 lokasi potong ayam yang bertarif Rp 30 juta dan Rp 35 juta tiap bulan.(konon masih persiapan lagi 4lokasi sebagai tambahan)
Angka fantastis hingga mencapai Rp 51,9 juta plus Rp 65 juta per bulan ini menguap begitu saja ke dalam kantong pribadi MS dan kroni birokrasinya. Tidak ada satu rupiah pun dari nominal tersebut yang mampir ke kas negara sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Surabaya.
Publik dan pengguna jalan dipaksa membayar "pajak kemacetan" dengan waktu dan kewarasan mereka, sementara oknum-oknum pencuri ruang publik ini berpesta pora di atas penderitaan warga.
TEROR DUA ORMAS BESAR
Saat Premanisme Mencoba Membungkam Pena Wartawan
Gurita skandal ini tampaknya terlalu seksi dan menguntungkan untuk dibiarkan terusik. Pasca penayangan artikel kritikan tajam oleh redaksi Banaspatiwatch.co.id, kepanikan hebat melanda kubu para penikmat uang pungli.
Bukannya melakukan klarifikasi resmi secara konstitusional, kubu pengelola pasar justru mengerahkan kekuatan otot. Beberapa orang suruhan, yang diduga bergerak atas perintah langsung dari MS dan jaringan birokrasi terkait, mulai melakukan intimidasi nyata.
Lebih memprihatinkan lagi, beberapa oknum petinggi dari dua Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) terbesar di wilayah tersebut turut turun gunung. Mereka secara terang-terangan melakukan tekanan fisik dan psikologis (pressure) terhadap jajaran redaksi serta wartawan Banaspatiwatch.co.id. Upaya pembungkaman ini memicu dugaan kuat bahwa aliran dana segar dari pasar tumpah "Bhug Abang " juga ikut mengalir subur ke kas informal oknum-oknum ormas tersebut sebagai biaya "proteksi keamanan."
PERLAWANAN NGGAK PERNAH BERAKHIR!
Upaya pembungkaman, intimidasi, dan teror premanisme ini justru menjadi indikator valid bahwa investigasi Banaspatiwatch.co.id telah tepat membidik jantung gurita korupsi lokal ini. Pena jurnalisme tidak akan tumpul oleh gertakan ormas maupun ancaman preman bayangan.
Warga Surabaya kini menunggu keberanian jajaran penegak hukum dan Satpol PP pusat Balai Kota. Apakah mereka akan kalah oleh jaringan pungli tingkat kelurahan, atau berani menyeret MS, Nurul Huda, serta para pejabat penerima aliran dana ke meja hijau?
(wied)

