Iklan

Rabu, 03 Juni 2026, 3.6.26 WIB
Last Updated 2026-06-03T06:55:16Z
-UTAMABERITA TERKINIBERITA-UTAMAHUKUMNASIONALPEMERINTAHREGIONALWARGA LAPOR

Aspirasi Ditunggu, Kepala Sekolah Menghilang: Dugaan Penghindaran di SMPN 18 Surabaya Guncang Kepercayaan Publik terhadap Dunia Pendidikan

Advertisement

 


Banaspatiwatch.co.id||Surabaya-- Sebuah catatan penting terkait etika dan pelayanan publik di lingkungan dunia pendidikan terjadi di SMP Negeri 18 Surabaya, yang beralamat di Jalan Bambang Sutoro, Komplek Kenjeran, Kecamatan Bulak, Surabaya. Peristiwa ini menyita perhatian karena menyangkut sikap seorang pemimpin lembaga yang seharusnya menjadi teladan dalam melayani masyarakat.Rabu(03/06/2026)


Kejadian berlangsung sekitar pukul 09.30 WIB, saat Bambang Hardoko, selaku Ketua DPD LSM Lembah Arasia Jawa Timur, berkunjung ke sekolah tersebut. Sesuai prosedur administrasi yang berlaku, kedatangan tamu dari unsur masyarakat ini sudah melapor dan mengisi identitas lengkap di buku tamu yang berada di pos keamanan sekolah.


Tujuan kedatangan tersebut disampaikan secara jelas, yaitu dalam rangka silaturahmi sekaligus menyampaikan aspirasi serta menanyakan kejelasan terkait sejumlah surat pendaftaran peserta didik baru jalur daring yang mendapatkan penolakan dan belum mendapatkan kejelasan prosedur.


Fakta yang terungkap di lokasi justru menjadi sorotan utama. Diketahui, saat insial (GPW) selaku Kepala Sekolah SMPN 18 Surabaya melihat kehadiran dan keberadaan Bambang Hardoko dari jarak jauh, beliau tidak segera menyambut atau mengajak berkomunikasi, melainkan justru tiba-tiba berusaha menghindar dan menjauh.


Alih-alih menemui dan berdialog secara langsung untuk mendengar apa yang menjadi keperluan tamu tersebut, Kepala Sekolah justru memilih untuk menghindar dan tidak lagi terlihat. Bahkan hingga tamu tersebut Belum menyelesaikan seluruh urusannya dan meninggalkan lingkungan sekolah, (GPW) sama sekali tidak kembali, tidak menemui, maupun memberikan keterangan alasan secara langsung maupun tertulis mengapa tidak bersedia melayani pertemuan tersebut.


Akibat sikap menghindar tersebut, urusan yang ingin dikomunikasikan akhirnya hanya dapat disampaikan dan dibicarakan dengan staf atau perwakilan dari pihak sekolah, tanpa kehadiran pimpinan yang seharusnya berwenang memberikan keputusan dan kejelasan.


Sikap oknum Kepala Sekolah ini Di duga sama sekali tidak mencerminkan sosok pendidik yang diharapkan mampu mendidik karakter bangsa. Bagaimana sekolah bisa mencetak anak-anak yang sopan santun dan beretika, jika pemimpin tertingginya saja bersikap Acuh, dingin, dan tidak tahu tata krama saat berhadapan dengan masyarakat?


Kejadian ini menjadi bukti nyata bahwa masih ada pejabat di lingkungan pendidikan yang merasa berkuasa dan menempatkan diri di atas masyarakat, padahal sejatinya mereka adalah pelayan publik.


Kami tunggu penjelasan logis dari inisial (GPW) maupun pihak Dinas Pendidikan Kota Surabaya, mengapa seorang tamu yang datang dengan hormat justru diperlakukan seperti orang asing yang tidak diharapkan kehadirannya. Apakah kebenaran dan kebijakan di SMPN 18 memang tidak boleh ditanyakan?


Melihat fakta kejadian tersebut, timbul pertanyaan besar di kalangan masyarakat: Bagaimana seharusnya sikap seorang pemimpin lembaga pendidikan dalam menyikapi kedatangan masyarakat yang datang dengan niat baik?


Bambang Hardoko yang datang dengan penuh kesopanan dan niat konstruktif tentu berharap mendapatkan sambutan yang layak.


“Saya datang ke instansi ini dengan hormat, sudah mengisi buku tamu, dan maksud saya jelas sebagai perwakilan masyarakat yang mencari kejelasan informasi. Namun, saat beliau melihat kehadiran saya dari jarak jauh, beliau tidak mendatangi saya atau menyapa, melainkan malah tiba-tiba menghindar dan pergi. Tidak ada kata sapaan, tidak ada penjelasan alasan, dan akhirnya saya hanya dilayani oleh staf. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan: Mengapa pimpinan harus menghindar? Apakah ini merupakan bentuk pelayanan yang ramah dan terbuka yang diharapkan masyarakat?” ungkap Bambang Hardoko menceritakan kronologi kejadian apa adanya.


Peristiwa ini menjadi catatan tersendiri bagi dunia pendidikan. Sebagai ujung tombak pelayanan publik, sekolah negeri seyogyanya menjadi tempat yang paling terbuka, ramah, dan responsif terhadap setiap masukan maupun pertanyaan dari masyarakat, tanpa sikap menghindar yang justru menimbulkan kesalahpahaman.


Masyarakat berharap agar kejadian seperti ini dapat menjadi bahan evaluasi bersama, sehingga ke depannya setiap pemimpin lembaga dapat senantiasa menjaga etika, tata krama, dan memberikan pelayanan yang maksimal serta beradab kepada setiap warga yang datang, tanpa memandang latar belakang.


Kita harapkan SMPN 18 Surabaya ke depannya semakin meningkatkan kualitas pelayanan dan keterbukaan komunikasi antara pihak sekolah dengan masyarakat luas.(red)