Advertisement
![]() |
| Foto : Suasana persiapan panggung SURABAYA VAGANZA sore ini dalam rangka HUT KOTA SURABAYA KE 733 TAHUN |
Oleh : Tri Widayanto
Kordinator Liputan Jawa Timur
BanaspatiWatch.co.id ||Surabaya--Malam ini, Sabtu, 16 Mei 2026, aspal jalanan dari Tugu Pahlawan hingga Balai Kota Surabaya seolah bersalin rupa menjadi hamparan surga visual. Bertajuk "Festival of Lights: Garden of Hope", gelaran tahunan Surabaya Vaganza 2026 sukses menyihir ribuan pasang mata. Gemerlap lampu neon warna-warni, iring-iringan mobil hias penuh bunga, serta kostum teatrikal berkerlip menghadirkan atmosfer magis urban yang belum pernah ada sebelumnya.
Di usianya yang pada 31 Mei 2026 nanti menginjak 733 tahun, Kota Pahlawan ingin menunjukkan taringnya sebagai metropolis modern yang kokoh dan tak melulu kaku. Namun, di balik panggung megah berlatar bunga raksasa malam ini, terselip sebuah refleksi mendalam yang mendayu-dayu di hati warganya.
ROMANTISME CAHAYA dan IRONI LONG WEEKEND
Ada estetika yang luar biasa tajam saat melihat bagaimana Pemerintah Kota Surabaya berani mengeksplorasi wisata malam. Mengubah rute parade sejauh 3,1 kilometer menjadi lautan cahaya adalah keputusan jenius untuk mendongkrak pariwisata urban pasca-pandemi. Kerumunan warga yang bersorak riang, aroma jajanan dari festival expo di Alun-Alun, hingga derap langkah para penari memancarkan optimisme besar sesuai tema yang diusung: sebuah taman harapan.
Namun, mari kita sejenak menepi dari riuhnya tepuk tangan. Di sela-sela kilau cahaya light show malam ini, ada getir yang harus dibayar mahal oleh sebagian warga. Pengalihan arus lalu lintas yang masif dan penutupan jalan sejak siang hari menyisakan labirin kemacetan panjang di urat nadi kota. Bagi para pekerja komuter, pengemudi ojek online, dan pedagang kecil yang mengejar rupiah di akhir pekan, "taman harapan" ini justru terasa seperti "jebakan macet" yang melelahkan.
CATATAN KRITIS UNTUK USIA 733 TAHUN
Kita patut mengapresiasi bagaimana Surabaya Vaganza mampu menjadi motor perputaran ekonomi kreatif berskala nasional. Namun, perayaan kolosal ini tidak boleh sekadar menjadi kosmetik tahunan demi memenuhi gengsi panggung Kharisma Event Nusantara (KEN).
Di balik gemerlap lampu malam ini, Surabaya masih menyimpan pekerjaan rumah yang fundamental antara lain :
ASAP DAN POLUSI
Kota ini mendengungkan konsep estetik alam, namun polusi udara sehari-hari dari kemacetan kronis masih menjadi bayang-bayang kelam yang merenggut paru-paru warganya.
MARGINALISASI UMKM
Saat korporasi besar dan tenant-tenant mapan mendapat panggung utama di pusat kota, pedagang asongan lokal di pinggir jalan justru sering kali harus terhambat pembatas barikade pengamanan.
HARAPAN YANG MERATA
Esensi sesungguhnya dari Garden of Hope (Taman Harapan) harus diturunkan hingga ke gang-gang sempit perkampungan Surabaya. Keindahan kota jangan hanya menumpuk di Jalan Tunjungan atau kawasan Grahadi saja.
MENATAP MASA DEPAN
Surabaya adalah kota yang dibangun di atas darah perjuangan dan mentalitas WANI.
Di usia yang ke-733 ini, ketegasan tata kelola kota harus beriringan dengan empati sosial. Berkilaulah Surabaya, bermekarlah bunganya, namun pastikan cahayanya juga menerangi dapur rakyat kecil yang sedang meredup di sudut-sudut kampung. Selamat Hari Jadi Kota Surabaya!

