Advertisement
Hasil investigasi lapangan tim kami mengonfirmasi bahwa perpindahan jabatan ini hanyalah upaya "cuci tangan" birokrasi terhadap kekacauan yang telanjur berakar.
SKANDAL PARKIR: "Lampu Hijau" untuk Penyamun Retribusi?
Surabaya darurat parkir liar, dan telunjuk kesalahan mengarah tepat ke hidung kepemimpinan Tunjung. Fakta mengejutkan terkuak di Jalan Kranggan (samping BG Junction), Jalan Kapasan, hingga sepanjang Pantai Ria. Di sana, parkir liar bukan sekadar fenomena sosial, melainkan diduga kuat dipelihara oleh otoritas terkait.
Camat Bulak, Hudayah, membongkar borok ini dengan gamblang: ada rekomendasi dari oknum petinggi Dishub era Tunjung untuk melegalkan titik parkir dengan tameng "pemberdayaan warga lokal". Ironisnya, itu hanya bualan. Di lapangan, para pemain luar justru yang mengeruk keuntungan.
Pertanyaannya: Ke mana larinya aliran dana retribusi yang sistematis ini? Apakah "pemberdayaan" hanyalah kata sandi untuk kebocoran yang disengaja?
TRAGEDI TERMINAL TOW:
Regulasi Ditabrak, Infrastruktur Hancur
Terminal Bus Tambak Osowilangun (TOW) kini menjadi monumen kegagalan kebijakan Tunjung. Kebijakan "ngawur" yang mengizinkan truk-truk raksasa parkir di dalam area terminal bus adalah bentuk pengkhianatan terhadap Peraturan Menteri Perhubungan.
Akibatnya fatal. Infrastruktur terminal hancur lebur sebelum waktunya karena beban yang tak sesuai peruntukan. Ini bukan sekadar salah urus, ini adalah penghancuran fasilitas publik secara sadar. Dasar kajian teknis apa yang dipakai? Atau jangan-jangan, izin parkir truk ini adalah "proyek gelap" demi kepentingan segelintir oknum di jajaran Tunjung kala itu dan sekarang.
OBSESI OUTSOURCING:
Aroma Amis Transaksional di Balik Overload SDM
Kegemukan struktur tenaga outsourcing di Dishub era Tunjung menimbulkan tanda tanya besar. Penumpukan petugas lapangan yang overload tidak berkorelasi dengan ketertiban jalanan Surabaya yang justru makin semrawut.
Aroma transaksional dalam proses rekrutmen tercium tajam. Investigasi mendalam kini membidik satu titik: Apakah lonjakan personel ini murni kebutuhan beban kerja, atau merupakan modus "jual-beli" jabatan lapangan yang dilakukan oknum internal demi memperkaya diri sendiri?
RESPON PENGECUT:
Lari dari Pertanggungjawaban
Saat dikonfrontasi mengenai dugaan malapraktik kebijakan ini, Tunjung Iswandaru menunjukkan sikap yang jauh dari profil pemimpin yang ksatria. Pria tinggi besar ini justru memilih langkah seribu, lari menghindari kejaran awak media menuju mobilnya.
"Memang... memang itu inisiatif saya... sudah-sudah atau silakan tanya Hajar," cetusnya gugup sembari kabur tanpa memberikan jawaban yang masuk akal.
(Hajar merupakan nama salah satu Kabid di lingkup kerja Tunjung, Red ).
Jawaban "lempar batu sembunyi tangan" ini seolah mengonfirmasi bahwa ada sesuatu yang besar yang sedang disembunyikan.
Kini, bola panas ada di tangan Walikota Surabaya. Bagaimana mungkin seorang pejabat yang meninggalkan jejak "kerusakan" justru mendapat promosi strategis di Bakesbangpol?
Jika maladministrasi ini dibiarkan tanpa evaluasi radikal, maka publik patut bertanya: Ada apa dengan sistem meritokrasi di Pemkot Surabaya?
Tim investigasi terus bergerak. Kami tidak akan berhenti sampai seluruh "benang kusut" di Dishub Surabaya terurai dan dalangnya diseret ke ruang terang pertanggungjawaban.
(Tim Investigasi/Wied)

